Atisha Tibet Belajar Di Nusantara

Institute for The Study of Linguistics Sanskrit Thought and Civilizations in “Bhoga”,Dagri Rinpoche,seorang guru besar “Buddhis Vajrayana” menjelaskan tentang ajaran bernama “Bodhicitta” yang disempurnakan di Pulau Emas (Svarnadvipa) oleh Guru Besar “Serlingpa Dharmakirti”


Ajaran tersebut diwariskan kepada “Atisha Dipamkara” yang menyebar ke berbagai daerah di Sunda, Jawa, Bali hingga ke daerah tertinggi di dunia, Tibet.


I-TShing atau Yijing, menulis bahwa ia mengunjungi suatu tempat pusat pendidikan agama dipulau Svarnadvipa yang berada di Lokasi “Tanpa Bayang” dalam istilah saat ini adalah : “Equinox” (garis khatulistiwa) pada tahun 671 M selama enam bulan untuk belajar tata bahasa Sanskerta dan bahasa Melayu,Di kota “Bhoga” tempat yang dilalui equinox /garis khatulistiwa pernah menjadi pusat kerajaan besar juga pernah menjadi tempat pusat studi keilmuan berskala internasional


Dua tahun Yijing menerjemahkan kitab suci berbahasa Sansekerta kedalam bahasa Tiongkok,Ia menggambarkan bahwa tempat itu adalah pusat agama dimana para ilmuwan asing berkumpul,Ratnakara, ketua “Vihara Vikramashila” berkata kepada rombongan dari Tibet, “Bukannya aku tidak mengetahui kondisi Tibet yang memprihatinkan,akan tetapi Atisha adalah salah satu guru kami dalam hal Bodhicitta”


Oleh karena itu dia hanya mengizinkan Atisha mengajar ditibet selama 3 tahun saja,Sebelumnya Dikisahkan Atisha saat di Bodhgaya,sedang ritual mengelilingi stupa mendengar.

Suara, “Jika ingin meraih pencerahan dengan cepat berlatihlah Bodhicitta”.


Pada saat itu Guru Besar yang memahami ajaran Bodhicitta adalah Dharmakirti Svarnadvippi dari Svarnadvippa,Atisha belajar pada Dharmakirti selama 12 tahun,Atisha bersama 125 bhiksu segera berangkat mengatasi samudera dan badai di perjalanan ke “Bhoga” sebuah negri yang dilalui equinox/garis khatulistiwa,svarnadvipa.


Dari 21 pemuda yang dikirim hampir semuanya meninggal dalam perjalanan dan hanya tertinggal 2 pemuda RinchenZangpo dan Legshay yang sudah menguasai bahasa Sanskerta,Sepulangnya dua pemuda tersebut menyampaikan kepada raja bahwa yg cocok mengajar di Tibet adalah Atisha.


Atisha,berguru belajar memahami berbagai ilmu di Svarna Dvipa di kota “Bhoga” yang dilalui equinox /garis khatulistiwa yang pernah menjadi pusat kerajaan besar juga pernah menjadi tempat pusat studi keilmuan berskala internasional.


Ajaran “Dharma” diwariskan kepada Atisha Dipamkara yang menyebar ke berbagai daerah di Sunda, Jawa, Bali hingga ke daerah tertinggi di dunia, Tibet,Kota “Bhoga” berpusat pada “Situs Muara Takus” yang dilalui equinox,Kini bernama muara takus kampar sumatra Indonesia,dari sinilah ajaran “Dharma” di bawa ke Tibet oleh “Atisha”.


“Situs Muara Takus” ,tidak berdasar pada salah satu dari 2 agama india,karena di sini pernah berdiri pusat belajar Palsafah Dasar yang mendasari tumbuhnya 3 agama di sana…”Dharma”

Di Negri ini…sejarah harus di “Rekonstruksi” …di tulis ulang…memaksa kita untuk berusaha “Menafsirkan” ribuan benda peninggalan leluhur…
….dan saat kita melepas semua …”Dogma” ….sejarah yg telah mendarah daging…kemudian masuk dalam area gelap masa lalu…..
…..Melangkah mundur 3 langkah ke belakang,kita mendapatkan jejak leluhur kita sdh berada 1000 langkah di depan kita……

Penulis : SantoSaba

BERITA TERKAIT

Apa pendapat anda tentang berita diatas

- Advertisement -spot_img

PALING SERING DIBACA

- Advertisement -spot_img

Terkini