Bukan Candi Budha Atau Hindu

Perhatian, ini upaya pelurusan catatan sejarah Nusantara, tidak sedang menyebarkan suatu ajaran atau menistakan salah satu lima agama resmi negara

Bahwa, semua situs-situs di Nusantara tidak dari atau berdasar salah satu ajaran yang terlahir di india, Tapi ajaran yang tergambar di situs-situs Nusantara itulah yang mendasari lahirnya tiga ajaran di sana

Simak klarifikasinya :
Kita ambil kasus di Sumatra, Candi “Muara Takus”, Peneliti asing dari, Corn de Groot 1858 sampai dengan F.M. Schnitger 1935, mereka me “Labeling” tidak konsisten

Corn de Groot 1858, Tidak melabel

Van Beest Holle 1879 melabel Hindu

Groeneveldt 1880, Tidak melabel

Verbeck, Delden 1881 melabel “Hindu”

IJzerman 1893, melabel “Buddha”

Krom 1923, melabel “Hindu”

Moens 1924, melabel “Buddha”

Bosch 1946, melabel “Hindu”

Schnitger 1935 melabel “Hindu”

Dari semua penelitian Kolonial Belanda diatas tampak tidak “Konsisten” terhadap apa yang mereka “Labelkan” kepada objek situs apakah Hindu atau Buddha….?

J.W. IJzerman 1889-1893 menggambarkan kondisi Desa Muara Takus dahulu yaitu bahwa Muara Takus terletak di belokan atau tikungan Sungai Kampar dengan areal kawasan sekitar 1,25 kilometer persegi

Terdapat jalan utama di tengah kawasan yang sekarang menuju Desa Tanjung di tepi-tepi jalan terdapat puing-puing bangunan-bangunan lama

Candi Muara Takus dikelilingi oleh dinding tembok empat persegi dengan ukuran 74×74 meter terbuat dari batu dengan ketinggian 1 meter

Di bagian tengah lapangan terdapat tumpukan batu dengan kayu-kayu bekas bangunan dan menemukan pecahan patung Singa di dekat gerbang, Y.zerman dan tim menjelaskan secara rinci :

• Teras tinggi di sebelah timur yang disebut, Candi Palangka

• Candi Mahligai Bungsu, terdapat batas antara batu bata dan batu pasir

Candi Tua

Dijelaskan juga oleh Y.zerman bahwa terdapat batu dengan ukiran daun oval dan relief-relief yang mengelilinginya dengan ukuran batu atau batu bata panjang 23-26 cm, lebar 14-15,5 cm, dan 3,5-4,5 cm

Dibawah ini adalah hasil explorasi penelitian dan kajian Santosaba :

Candi Tua adalah bangunan awal di area ini , “Mahligai stupa” atau bangunan yang berbentuk menara juga “Candi Bungsu” di bangun di generasi selanjutnya, bentuk “Candi Tuo”, yang terlihat seperti sekarang adalah bentuk setelah 5 kali penambahan bata merah dari 5 generasi yang merawat

1300 SM “Candi Tuo” berbentuk seperti pyramida dengan susunan batu keras sebesar besar lemari baju, ketinggian nya sama dengan saat ini, Di lapisi bata merah pertama kali di masa “Svarnakerta” atau paman dari “Svarnadvipa”

900-800 SM “Candi Tuo” di masa “Shanghyang Datuok Svarna” di lapisi bata merah kedua

610 SM – 520 SM “Candi Tuo” dimasa “Suvarnadvipa Dharmakirti” dengan ketinggian tetap, bagian atas atau kepala stupa saja yang diselimuti bata merah

520 SM “Candi Tuo”di akhir era “Dharmakirti” dilakukan pelapisan bata merah ketiga

458 M “Candi Tuo”, dilakukan pelapisan bata merah keempat, di era nama “Srivijaya” di Palembang mulai di sebut sebut dan dikenal oleh fihak luar Kadatuan dan dunia

640 M “Candi Tuo” , dilakukan pelapisan bata merah kelima, Pembalutan ini dari podium lantai 2 sampai dengan 14 meter kedalam tanah

1025 M, “Rajendra Chola” dari Tamil Nadu India, melancarkan serangan ingin merebut kota suci ini, membantai 17 utusan para “Datuok” membakar dan menimbun jenazah di atas pelatar berlantai bata merah “Candi Tuo”, Kini masih terlihat berupa gundukan tanah dan kini di salah tafsirkan sebagai tempat “Kremasi”

1984 M, Pemugaran “Candi Tuo”, berhasil mempertahankan ke aslian bata merah 40% yang dominan masih ada dibagian sudut bawah dengan ciri ditumbuhi lumut

“Candi Mahligai Stupa” di bangun tahun 458 Masehi Pra Islam di kadatuan, di tandai dengan pembangunan menara di pusat puja, Hieun-Tsang 602 – 664 M, mencatat apa yang di lihat nya di svarnadvipa

….di sampingnya ada stupa yang dibangun oleh rāja, sekitar 200 kaki tingginya…di dekat ini ada tanda di mana Tathāgata berjalan ke sana kemari….

..di tempat para imam, Ada “Sangharama” yang dibangun, di sini mereka membuat menara untuk menghormati “Sariputra” , Mudgalaputra, juga untuk menghormati Abhidharma , Vinaya dan Sutra..

..inilah lokasi yang di kunjungi Fa-Hien thn 399-414 M dan Hieun-Tsang 602 – 664 M, dilokasi tempat Atiśa Dīpaṃkara “Belajar”, mencatat dan membawa pulang ajaran leluhur Nusantara ke negrinya, bukan membawa ajaran “Buddhis” lalu di sebarkan kesini

“Mahligai Stupa” pernah hancur dan dibangun kembali abad 13 Masehi, J.W. IJzerman 1889-1893, melakukan penelitian juga perubahan, Di pugar dan digali hingga kedalaman 30 meter pada tahun 1939 – 78 dan pemugaran kembali pada tahun 1978-84 dengan hasil tambah kurang hingga terjadi :

Hilangnya artefak batu berbentuk singa

Berpindahnya batu bergambar tapak kaki yang seharusnya berada di bawah, kini ada di atas menara/stupa yang tinggi

Tertutupnya lubang di atas stupa/menara, Keadaan asli tembus pandang dari 4 arah mata angin

Tertutupnya pintu atau jendela yang seharusnya ada di bagian podium penunjang stupa, Mudah terlihat dari tanda penambahan batu bata baru, yang tidak diselesaikan sempurna

Penutupan Sudut Podium atau Mandala di tingkat pertama, Hilang satu sudut batu bata baru terlihat tidak ditumbuhi lumut

Penambahan tiang beton bulat dibagian dalam menara sebagai pemegang struktur utama stupa, Info didapat dari saksi pekerja yang masih hidup

Hilangnya kertas emas bertuliskan “Mantra” di setiap lapisan lingkaran bata merah menara stupa

Penggunaan bata asli awal hanya berhasil di pertahankan 6% saja, Terlihat jelas di menara di setiap lingkaran bata merah penutupnya

“Mahligai Stupa” dengan pelatar lantai bata merah kini tertutup saat di bangun nya “Candi Palangka” dan sebagian tertutup oleh pembuatan jalan paving block saat ini

Pelatar Candi Mahligai Stupa, Berbahan dasar sama dengan pelatar candi tuo, besar nya sebesar candi bungsu, saat ini pelatar itu di bangun “Candi Bungsu”, bagian belakang candi mahligai stupa diluar pagar utama area pusat puja, adalah tempat berkumpulnya gajah gajah

“Candi Bungsu” pada abad 10 tahun ke 5 oleh “Shang Hyang Datuok Culamani Tiwarmadewa” atau Cudamani Tiwarman, atau di singkat dengan nama “Culawarman” membangun candi bungsu untuk nenek nya di atas pelatar candi mahligai stupa selesai tahun ke 6

Krom juga menyampaikan dari berita China bahwa Candi Bungsu disebut sebagai Chang “T’ien Wan Shou” atau “Candi Bungsu” saat tahun 1984 – 86 dalam keadaan hancur, lalu di pugar kembal dengan bahan bata merah yang diambil dari daerah “Pongkai”

Dr. Bennet Bronson 1973, dalam “Laporan Penelitian Arkeologi di Sumatera”, yang dibuat 20 Mei-8 Juli 1973 juga di tambah hasil penelitian dilakukan oleh Lembaga Purbakala Dan Peninggalan Nasional Indonesia bekerjasama dengan The University of Pennsylvania Museum, Philadelphia – Amerika

Dari gundukan tanah di kawasan sekitar candi utama Muara Takus, mereka menemukan artefak perunggu berwujud manusia berkepala gajah, cermin perunggu yang salah satu sisinya dilapisi emas dengan presentasi mencapai 83 persen, artinya hampir 24 karat

Temuan lain “Vajra” , juga temuan bata bertulis yang secara paleograf Isinya mantra berbunyi:

“om ah bighnanta kr hum phat svaha”

…..di dalam situs “Candi Bungsu” di temukan kotak tembaga yang didalamnya terdapat 3 keping lempeng emas yang bertuliskan :

1.“Ohm”
2.“Ah”
3.“Hom”

Di sisi kotak itu terdapat “Rabuk kremasi”, Tongkat dan senjata dengan hiasan permata disisi kanan dan kiri, Bahasa lokal menyebut dengan “Pedang Lonjong” atau “Sulo”__

Ketiga Kata……”Ohm”, “Ah” , “Hom”….
ada pada ajaran “Hindu” “Buddha” bahkan “Jaina”, Bukan hanya ada pada salah satu nya…ini adalah tiga kata utama dalam ajaran asli Nusantara “Dharma”

Teks literasi kata “Dharma” terekam di relief dasar Bore-budur dengan teks kata, “Kusaladharmabajana” dan “Vinayadharmacitakya” ini berarti “Bore-budur”… juga candi “Muara Takus” bukan “Berdasar” pada salah satu ajaran yang terlahir di india, tapi mendasari lahirnya 3 ajaran baru berbasis “Dharma” disana hingga kini terekam sempurna di Bali…

Sejatinya :
Kaum Çaka adalah leluhur bangsa Nusantara, tertulis pada relief dasar Vhwãnã Çakã Phãlã/Borobudur dengan teks literasi kata Māhéçãkyã , Bangsa Çãkyã/Şàkyà/Saka/Aryān yang Agung,di sebut “Schytia” oleh sejarawan eropa

Bangsa Arya diluar Nusantara mulai menulis kitab-kitab suci “Veda” 1500 SM, Kitab suci ini dituliskan dalam 4 bagian seperti Reg Weda, Sama Weda, Yayur Weda, dan Atharwa Weda

Dalam teks pasca-Veda, Mahabharata Udyoga Parva (108) : “Timur” digambarkan sebagai tanah air asal budaya “Veda”, di mana “Pencipta” alam semesta pertama kali menyanyikan “Veda”…..

….“Timur” adalah Asia Tenggara Nusantara Indonesia terdahulu, lokasi dimana sumber awal “Ajaran” sebelum “Veda” di tuliskan di India…

Leluhur bangsa Indonesia terdahulu para “Brahman” disebut oleh sejarawan eropa sebagai “Brahmanism” mereka adalah kaum Saka para Aryan membawa ajaran nya “Dharmic Original” ke luar Nusantara mendasari lahirnya Buddhism, Hinduism dan Jainsm jauh sebelum nama nama yang tercatat di bawah ini yaitu :

Dharmadasa 700-620 SM

Dharmapala 670-580 SM

Sañjaya Belaṭṭhaputta 6 SM

Sariputra 568-484 SM

Svarnadvipa Dharmakirti 610 SM – 520 SM (ada 2 nama dalam masa berbeda)

Kumarila Bhatta I 618-540 SM

Adi Sankara 569-537 SM

Çhri Janaýasã – Dhapunta Hyam 671–702 M

Rshi Mārkaṇḍeya, abad ke 9 M,

Sangharama pusat pembelajaran “Dharma” di Svarnadvipa, bernama “Dharma Phala”, Raja Pala Silsilah Syailendra Balaputradewa Svarnadvipa, membangun cabang di Bihar india “Nalanda” 427 M, Sangharama Maha Tupa di Javadvipa Vhwănā Çhaķâ Phalā kini terpublikasi bernama Borobudur

Area “Situs Muara Takus”, di sini pernah berdiri pusat belajar Palsafah Dasar Utama
Dharmic Original “Dharma/Dhamma” yang tergambar di Borobudur dan tersimpan sempurna di Bali

Artinya semua situs di Nusantara tidak berdasar pada salah satu dari 2 Agama lndia tapi mendasari tumbuh nya 3 Agama di tanah india juga Tibet dan awal penghitungan tahun Saka di prasasti tidak di mulai tahun 78 Masehi, ini penyebab hilangnya sejarah kita sebelum tahun itu

Kapan dan Siapa “Misionaris” india ke Nusantara, Hingga situs situs & Kerajaan Pra Islam di sebut Hindu atau Buddha…..?

Tidak ada jawabannya, Karena memang tidak pernah ada…ini hanya “Labeling” proses propaganda “Indianisasi” nusantara untuk menghilangkan jejak maju leluhurnya hingga hilang percaya diri hilang “indentitas” siapa sejatinya kita……

Ikuti acara zoom Hari Minggu tanggal 16 Januari 2022, Pukul 13.00 WIB pendaftaran peserta via form registrasi

Penulis : Santo Saba

BERITA TERKAIT

Apa pendapat anda tentang berita diatas

- Advertisement -spot_img

PALING SERING DIBACA

- Advertisement -spot_img

Terkini