“Dongeng Marsinah” (2)

Musim gugur aktivis memasuki kemarau kemarau kemarahan rakyat, kematianmu membawa musim cendawan gerakan demokrasi dan HAM, seolah menemukan momentum untuk maju dan meningkat intensitasnya, buruh kian gemuruh melawan menuntut haknya. Kematian Marainah penanda perlawanan terbuka buruh atas kebebasan berserikat (masa orba dengan politik koeporasi negaranya melarang organisasi buruh yang direstuinya, melawan di-subversifkan !) kaum perempuan menerjang patriarkh dalam tubuh rezim, komite solidaritas untuk Marsinah terus mengintip dan memonitor kasus pembunuhannya serta keboborokan penguasa, kaum seniman tak kalah meradangnya dalam mendorong runtuhnya rezim yang memasuki gerhana politik. Perupa Mulyono menggelar seni instalasi Marsinah di DKS surabaya, yang dilarang dipamerkan, Pengacara pengacara memicu lokomotif demokrasi melalui dukungan aksi di jalanan dan di altar persidangan, menelanjangi kekotoran selingkuh pengusaha dan penguasa.

Semua itu jadi bara yang terus memercik, terekam dengan genial, dalam pendaran kamarahan tak tertahankan selama 3 tahun penulisannya, sastrawan romantik ini mengisahkan dalam guratan “Dongeng Marsinah”

/1/
Marsinah buruh pabrik arloji,
mengurus presisi:
merakit jarum, sekrup, dan roda gigi;
waktu memang tak pernah kompromi,
ia sangat cermat dan pasti.

Marsinah itu arloji sejati,
tak lelah berdetak
memintal kefanaan
yang abadi:
“kami ini tak banyak kehendak,
sekedar hidup layak,
sebutir nasi.

/2/
Marsinah, kita tahu, tak bersenjata,
ia hanya suka merebus kata
sampai mendidih,
lalu meluap ke mana-mana.
“Ia suka berpikir,” kata Siapa,
“itu sangat berbahaya.”

Marsinah tak ingin menyulut api,
ia hanya memutar jarum arloji
agar sesuai dengan matahari.
“Ia tahu hakikat waktu,” kata Siapa,
“dan harus dikembalikan
ke asalnya, debu.”

/3/
Di hari baik bulan baik,
Marsinah dijemput di rumah tumpangan
untuk suatu perhelatan.
Ia diantar ke rumah Siapa,
ia disekap di ruang pengap,
ia diikat ke kursi;
mereka kira waktu bisa disumpal
agar lenkingan detiknya
tidak kedengaran lagi.

Ia tidak diberi air,
ia tidak diberi nasi;
detik pun gerah
berloncatan ke sana ke mari

Dalam perhelatan itu,
kepalanya ditetak,
selangkangnya diacak-acak,
dan tubuhnya dibirulebamkan
dengan besi batangan

Detik pun tergeletak
Marsinah pun abadi.

/4/
Di hari baik bulan baik,
tangis tak pantas.
Angin dan debu jalan,
klakson dan asap knalpot,
mengiringkan jenazahnya ke Nganjuk.
Semak-semak yang tak terurus
dan tak pernah ambil peduli,
meregang waktu bersaksi:

Marsinah diseret
dan dicampakkan —
sempurna, sendiri

Pangeran, apakah sebenarnya
inti kekejaman? Apakah sebenarnya
sumber keserakahan? Apakah sebenarnya
azas kekuasaan? Dan apakah sebenarnya
hakikat kemanusiaan, Pangeran?

Apakah ini? Apakah itu?
Duh Gusti, apakah pula
makna pertanyaan?

/5/
“Saya ini Marsinah,
buruh pabrik arloji.
Ini sorga, bukan? Jangan saya diusir
ke dunia lagi; jangan saya dikirim
ke neraka itu lagi.”

(Malaikat tak suka banyak berkata,
ia sudah paham maksudnya.)

“apa sebaiknya menggelinding saja
bagai bola sodok,
bagai roda pedati?”

(Malaikat tak suka banyak berkata,
ia biarkan gerbang terbuka.)

“Saya ini Marsinah, saya tak mengenal
wanita berotot,
yang mengepalkan tangan,
yang tampangnya garang
di poster-poster itu;
saya tidak pernah jadi perhatian
dalam upacara, dan tidak tahu
harga sebuah lencana.”

(Malaikat tak suka banyak berkata,
tapi lihat, ia seperti terluka.)

/6/
Marsinah itu arloji sejati,
melingkar di pergelangan
tangan kita ini;
dirabanya denyut nadi kita,
dan diingatkannya
agar belajar memahami
hakikat presisi.

Kita tatap wajahnya
setiap hari pergi dan pulang kerja,
kita rasakan detak-detiknya
di setiap getaran kata.

Marsinah itu arloji sejati,
melingkar di pergelangan
tangan kita ini.

(1993-1996)
Sapardi djokodamono.

Lengkingan, teriakan dan semangat semangat itulah yang menjadi kayu bakar api revolusi yang tersiram menjadi reformasi 1998.
Tak terasa, 28 tahun kekejaman telanjang persekutuan mereka yang kaya dan berkuasa telah membuka aib pemegang senjata, membunuh anak negeri yang menuntut haknya yang selama ini diabaikan. Hingga kinipun masih diabaikan karena revolusi yang dimau terbajak di tengah jalan menjadi reformasi yang menjadikan demokrasi kita dikendalikan oligarkhi yang kleptokrat. Kekejaman terhadap Marsinahpun kembali tersaji dalam menu politik saat ini yang absurd

Penulis : Hamidah

Baca Sebelumnya : Marsinah (1)

Baca Selanjutnya : Momen Sejarah Marsinah (3)

BERITA TERKAIT

Apa pendapat anda tentang berita diatas

- Advertisement -spot_img

PALING SERING DIBACA

- Advertisement -spot_img

Terkini