Masa Bergerak Ki Jakaria (Legenda yang datang kembali) Bagian II

Damar Banten - Ki Jakaria yang mempunya peran yang sangat penting pada pemberontakan di tahun 1811, dirinya sangat dihormati oleh masyarakat Banten, terutama bagi para petani yang mengalami langsung penderitaan serta kekecewaan yang amat mendalam dari kebijakan kolonial, mereka lebih memilih untuk bekerja sama dengan Ki Jakaria  dalam melakukan perlawanan, atas kondisi tersebut semakin mempermudah Ki Jakaria dalam mengorganisir massa yang jumlahnya banyak guna ikut serta terlibat pada saat pelaksanaan pemberontakan, untuk melawan kolonial Belanda di daerah Pandeglang. 

Kabar mengenai kaburnya Ki Jakaria sudah membuat pemerintah kolonial Belanda mewanti-wanti acaman dari pergerakannya, akibat pengaruh buruk dari masa lalu di Banten yang ingin menguasai serta menjadikan dirinya sebagai Sultan Banten yang baru. Hal tersebut akhirnya membuat pemerintah kolonial memberikan sayembara pada para penduduk Banten yang berhasil menangkap Ki Jakaria dalam keadaan hidup atau mati, akan mendapatkan imbalan sebanyak 2000 gulden.

  Mengetahui tentang hal itu, Ki Jakaria mulai memainkan taktik politiknya dengan menghasut masyarakat guna melawan otoritas hukum serta menyebarkan informasi jika sejak kedatangannya ke Banten, masyarakat tidak perlu lagi untuk membayar sewa tanah seperti di beberapa kabupaten, yang itu menyebabkan keterlambatan bahkan kesulitan bagi para petani beserta keluarganya.

Pemerintah kolonial Belanda akhirnya mencurigai beberapa orang, diantaranya adalah Mas Samarang yang tinggal di perbatasan Banten, dirinya dicurigai telah memberikan jimat kepada para penduduk. Mas Samarang kemudian berhasil ditangkap oleh Polisi dari Bogor serta mengumpulkan senjata yang tersimpan di rumahnya.

   Mas Samarang terbukti memiliki watak pemberontak yang sama dengan Mas Djakaria, yang itu membuat pemerintah kolonial Belanda memutuskan agar menangkapnya. Mas Semarang juga sempat menunjukan yang diduga menjadi tempat tinggal dari Ki Jakaria yang berada di kampung Candelekan, di Rawa Sonkaijab, namun pasukan kolonial Belanda tidak berhasil menemukannya, sebab para pemberontak memilih untuk melanjutkan perjalanan melalui Lebak serta Gondok dengan pengikut yang cukup banyak ke hutan dari Gembor.
Tepat pada hari Selasa, tanggal 6 September 1827, Ki Jakaria bersama 600 orang pengikutnya, serta 1.400 perusuh atau bandit mulai bergerak menuju Pandeglang. Di sana mereka berhasil mengepung daerah tersebut. Para perwira pribumi serta kolektor yang mengetahui hal tersebut segera melarikan diri menuju Serang serta memberitahukan kepada pemerintah Belanda, jika benteng yang berada di daerah Pandeglang sudah dikepung oleh massa yang sangat besar bahkan mereka sudah melakukan penyerangan terhadap benteng dan bangunan-bangunan yang ada disekitarnya, bahkan beberapa bangunan di luar benteng telah dibakar oleh para pemberontak. 

Selanjutnya, para pemberontak menyerang serta membunuh beberapa perwira yang dipimpin oleh Letnan de Quay, namun pasukan pemerintah Belanda dengan hanya berjumlah 20 orang berhasil bertahan dari serangan 2.000 pasukan pemberontak yang sudah mengepung serta menyerang benteng, bahkan berhasil membunuh 10 orang, kecuali glasir benteng. Sikap dari Letnan de Quay yang dipercaya dalam mempertahankan pos tersebut dengan pasukan kecilnya serta sikapnya yang bijaksana, berhasil membangun strategi yang baik sehingga dapat membuatnya mampu bertahan, dari serangan besar yang dilakukan oleh pasukan Ki Jakaria.

Pada saat Asisten Residen Banten tiba di benteng yang berada di Pandeglang, para pemberontak kemudian memilih untuk mundur, sebab dianggap kedatangan dari residen telah membawa pasukan yang jauh lebih besar dari para pasukan pemberontak. Selanjutnya, Demang Pandeglang beserta beberapa polisi, diperintahkan guna mengejar dan menangkap para pemberontak.

 Dengan melakukan pemaksaan, para pasukan pemerintah menekan rakyat untuk memberikan  informasi mengenai tempat persembunyian para pemberontak, tidak saja itu, para pasukan kolonial juga lalu membakar desa yang dianggap telah membantu para pemberontak dalam melarikan diri, sehingga hal tersebut menghasilkan teror serta ketakutan pada kalangan masyarakat, dan pasukan kolonial juga akan memberikan hadiah yang sangat besar bagi penduduk desa, jika mampu memberikan informasi mengenai keberadaan Ki Jakaria beserta pasukannya.

  Pasca mundurnya pasukan dari Pandeglang, Ki Jakaria memilih untuk kembali ke desa Kolelet guna bersembunyi, karena di desa tersebut dirinya mempunyai banyak hubungan keluarga, yang itu dapat lebih mudah untuk mendapatkan tempat tinggal. Namun tekanan yang terus-menerus diberikan dari para polisi serta pejabat desa, mengakibatkan pergerakan dari Ki Jakaria menjadi sangat terhambat.
Karena kondisi yang dianggap sudah tidak aman lagi di tempat tinggalnya yang sekarang, Ki Jakaria memutuskan untuk pergi serta berlindung di pedalaman guna menghindari kejaran dari pasukan pemerintah kolonial Belanda. Letnan de Quay dapat dikatakan telah melakukan pertahanan yang cukup baik terhadap para pemberontak dengan kekuatan militer yang dimilikinya, selama berada di Pandeglang, sehingga membuat Ki Jakaria beserta para pasukannya dapat dipukul mundur ke tempat persembunyiannya.
  Di tanggal 21 November 1827, Ki Jakaria bersembunyi di tempat tinggalnya yang terletak di Baros, perbatasan antara Pandeglang serta Serang. Roes Agus seorang kerabat Raden Djaga Manggala memberitahukan kepada Wakil Bupati Djaga Manggala, jika Ki Jakaria sedang berada di rumahnya. Djaga Manggala yang telah tahu kabar tersebut tanpa berlama-lama langsung berangkat menuju rumah Ki Jakaria yang telah dijaga oleh mandor beserta pengikutnya, pada saat Wakil Bupati tiba di lokasi, semua mandor beserta pengikutnya sudah melarikan diri terkecuali dua mandor yang melakukan perlawanan, namun segera dilucuti serta ditangkap oleh pasukan Djaga Menggala.

  Ingabehi Hoetjim yang merupakan kerabat Wakil Bupati masuk terlebih dahulu ke dalam rumah Ki Jakaria, namun mendapatkan serangan langsung dari Ki Kakaria dengan dua pukulan.

  Wakil Bupati yang berhasil masuk ke dalam rumah langsung melakukan tembakan serta berhasil mengenai lengan Ki Jakaria, namun Ki Jakaria yang hanya mendapatkan luka tembakan  masih dapat bisa melakukan perlawanan dengan menggunakan keris serta pistolnya, sebelum kemudian berhasil ditangkap hidup-hidup oleh pasukan Wakil Bupati Djaga Menggala. 

 Ki Jakaria yang saat itu berhasil ditangkap, akhirnya dibawa menuju Serang guna mendapatkan hukuman dari pemerintah kolonial Belanda, di mana tubuhnya langsung diseret menuju gedung Pengadilan kolonial Belanda. 

Pemerintah kolonial Belanda yang sangat membenci pemberontakan yang sudah dilakukan oleh Ki Jakaria, akhirnya menjatuhkan hukuman mati dengan cara dipenggal kepalanya serta dimasukkan ke dalam sangkar besi guna digantung pada tiang pegantungan distrik Serang. Selanjutnya, tubuhnya akan dibakar oleh kolonial Belanda sebagai peringatan juga teror terhadap rakyat Banten yang akan melakukan pemberontakan kepada pemerintahan kolonial Belanda.

Penulis: Ilham Aulia Japra

BERITA TERKAIT

Apa pendapat anda tentang berita diatas

- Advertisement -spot_img

PALING SERING DIBACA

- Advertisement -spot_img

Terkini