Home Ekonomi - Bisnis Ekonomi Perempuan Berdaya Dengan Lumbung Pangan Dan Koperasi

Perempuan Berdaya Dengan Lumbung Pangan Dan Koperasi

Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Masyarakat (LP2M) menyelenggarakan diskusi dan pelatihan bertajuk “Pengembangan Lumbung Pangan Keluarga sebagai Salah Satu Strategi Resiliensi Merespon dan Pemulihan Covid-19” untuk para Perempuan dampingan mereka yang tersebar di berbagai kota dan kabupaten di Sumatera Barat selama tiga hari (Kamis, Jum’at, dan Senin; 17,18, dan 21 Juni 2021). Diskusi dan pelatihan tersebut diselenggarakan melalui kerja sama dengan Koperasi Mandiri Dan Merdeka (KMDM) yang di dalamnya terdapat para akademisi dari berbagai fakultas di Universitas Andalas dan para praktispertanian dan pemasaran di Kota Padang melalui media daring.

Pada hari pertama, mendiskusikan tentang “mengapa mengembangkan lumbung pangan keluarga harus dilakukan?” sebagai pembahasan utama. Pandemi Covid 19 telah mengajarkan kepada semua orang bahwa lumbung pangan sehat harus menjadi perhatian dan dimiliki oleh setiap keluarga, dengan posisi dan peran perempuan yang sangat penting dalam pengembangannya. Bahkan, di luar masa pandemi pun, lumbung pangan sehat keluarga juga tetap penting karena itu menjadi praktik dari kedaulatan dan kemandirian pangan dan kesehatan.

Salah satu refleksi yang muncul adalah pertanyaan lanjutan yang harus dijawab bersama: “mengapa lumbung pangan sehat berbasis keluarga tidak ada lagi di rumah-rumah penduduk atau di dalam masyarakat?”. Apakah secara kultural, keberadaan lumbung pangan sehat keluarga itu dianggap tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman sehingga ditinggalkan dan dilupakan dengan kesadaran? Ataukah secara struktural, keberadaan lumbung pangan sehat keluarga sengaja dihapuskan melalui berbagai program dan kebijakan yang sesungguhnya justru mengkondisikan setiap keluarga dalam masyarakat menjadi ketergantungan?

Seolah-olah, lumbung pangan sehat keluarga bisa digantikan oleh keberadaan pasar pangan dan kesehatan untuk ketahanan pangan dan kesehatan, padahal ada pertanyaan yang harus dijawab juga: “apakah setiap orang dan setiap keluarga mampu mengakses kebutuhan pangan dan kesehatan di pasar-pasar tersebut?”.

Pada hari kedua, diskusi dilanjutkan dengan pembahasan yang lebih jauh tentang “bagaimana mengembangkan lumbung pangan sehat keluarga?”. Bahkan kesadaran dan kearifan lokal masyarakat secara umum tentang lumbung pangan sehat keluarga mengalami degradasi dan distorsi. Terutama ketika setiap keluarga sudah tidak memiliki lagi lahan untuk membangun lumbung pangan sehat secara fisik atau bangunan. Maka praktik dari konsep lumbung pangan sehat harus bergeser bukan hanya menyimpan bahan pangan sehat dalam gudang, namun juga dalam bentuk tanaman yang dibudidayakan di lahan terbatas bahkan ketika harus membuat media tanam alternatif.

Ketika untuk memulai mengembangkan lumbung pangan sehat keluarga pun terkendala lahan, maka harus dilakukan pemanfaatan lahan sesempit apapun yang tersedia, juga menciptakan media tanam alternatif dengan pengelolaan sampah keluarga: memanfaatkan barang-barang bekas. Bahkan untuk memberi nutrisi pada tanaman umbi-umbian, sayur mayur, buah-buahan, obat/herbal yang ditanam, termasuk pestisida yang digunakan, bisa dilakukan dengan memanfaatkan pengolahan sampah keluarga. Pilihan yang mungkin untuk itu adalah bertanam dengan metode aquaponik dan membuat Eco Enzyme.

Belajar tentang budi daya tanaman melalui metode aquaponik dan berlatih membuat Eco Enzyme menjadi materi di hari ketiga yang diikuti oleh para Perempuan dampingan LP2M Sumatera Barat dengan sangat antusias. Mereka mulai menyadari arti penting mengembangkan lumbung pangan sehat keluarga, namun juga harus mampu menciptakan alternatif pilihan untuk menghemat ongkos produksi.

Kerja sama yang baik antara LP2M, KMDM, dan para Perempuan dampingan LP2M se-Sumatera Barat tersebut akan berlanjut ke depan sebagai sebuah bentuk kolaborasi yang memungkinkan untuk terus dikembangkan. Apalagi ketika lumbung pangan sehat keluarga tersebut tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pokok setiap keluarga sebagai konsumsi dasar, ketika hasil produksi berlebih, maka akan menjadi komoditas untuk dipasarkan. Salah satu alternatif untuk memasarkannya adalah melalui pasarrabutani.com yang dikelola oleh KMDM. Selain itu, jika pengembangan lumbung pangan sehat keluarga itu tidak mudah dilakukan oleh setiap keluarga, maka sudah saatnya mengembangkannya secara bersama-sama dengan cara berkoperasi.

Duri, 22 Juni 2021.
Virtuous Setyaka,
Ketua KMDM.

NO COMMENTS

Apa pendapat anda tentang berita diatas

Exit mobile version