Sekali Peristiwa di Cikande Udik (Penumpasan Para Pemberontak) Bagian IV

 Damar Banten - Residen Buyn mau tidak mau harus mengerahkan seluruh kekuatan dari pasukan militer yang ada di Serang, untuk pergi menuju Cikande Udik. Pasukan itu terdiri dari Kapten Buys sebagai komandan, letnan infanteri Fytsen, dan 45 orang serdadu, batalyon ke-13, serta pasukan Jayengsekar di bawah komandan letnan Zestra. 

  Di samping itu, beberapa kepala pribumi yang membawa 50 orang serdadu, juga ikut serta memperkuat pasukan Kapten Buys. Setelah berjalan menyeberangi parit, letnan Zetstra dan pasukan Jayengsekar langsung melakukan perlawanan kepada pasukan pemberontak, ternyata perang Sabil berjalan cukup singkat, hal tersebut diakibatkan para pemberontak yang memiliki keyakinan jika jimat yang dipakai dapat membuat mereka menjadi kebal, para pasukannya pemberontak dengan percaya diri menghalau tembakan meriam dari pasukan Belanda.
Akibatnya, banyak korban yang terbunuh dengan sisa-sisa dari para pasukan pemberontak, mereka yang menyadari jika kesaktian yang dijanjikan para tokoh agama ternyata tidak terbukti, membuat para pasukan pemberontak akhirnya harus melarikan diri menuju pegunungan.

  Selanjutnya, Residen Buyn kemudian memberi instruksi kepada seorang komandan pasukan agar memburu para pemberontakan yang melarikan diri. Selama beberapa hari masa pencarian berlangsung,  didapati sejumlah 384 orang yang masih hidup serta mengalami luka, yang diidentifikasi sebagai pelaku atas peristiwa pemberontakan kemarin.

  Pengakuan yang didapatkan dari beberapa pemberontak yang ditangkap, mereka membenarkan dugaan dari Residen Banten, jika peristiwa tersebut bukanlah insiden yang terpisah, akan tetapi sebuah isyarat agar dapat mengobarkan pemberontakan di seluruh wilayah Banten. Ternyata kejadian tersebut memang masih berkaitan dengan pemberontakan yang dilakukan oleh Nyimas Gamparan. 

 Pada akhirnya sebanyak 41 orang dibebaskan setelah dianggap tidak bersalah serta tidak terlibat pada saat pemberontakan berlangsung. Setelah perlawanan yang dilakukan oleh para tokoh agamawan beserta para petani berhasil dikondusifkan.
Perlu diketahui jika Pemberontak yang terjadi di Banten yang silih berganti, diakibatkan oleh faktor rakyat yang tidak puas terhadap kebijakan pajak, serta sewa tanah yang mempersulit ekonomi para petani, juga rasa dendam dari para kaum elite agama serta bangsawan yang tersingkir dari pemerintahan kesultanan Banten, yang bersebrangan terhadap kebijakan kolonial Belanda. 

  Penyebab lainnya juga disebabkan karena pemerintahan kolonial Belanda hanya melakukan kerjasama dengan elite agama, serta elite bangsawan yang berpihak kepada kebijakan pemerintahan kolonial Belanda saja, guna mengatur administrasi di berbagai daerah di wilayah Banten dengan menempatkan para Bupati serta penghulu di setiap daerahnya.
 Ditambah, eksploitasi secara berlebihan yang berujung kepada kesalahan pemerintah dalam menetapkan kuota pasokan tanaman komoditi, seperti pada sistem cultuurstelsel yang diberlakukan terhadap hak milik pribadi pada tanah partikelir. 

Penyebab lainnya Juga merupakan sifat dari masyarakat Banten yang terkenal sangat fanatik terhadap agama, yang dengan mudah dapat menerima  gagasan milenarisme yang dapat mendorong orang-orang melakukan perlawanan, guna membantai semua orang-orang Eropa bahkan pemerintahan kafir. Hal tersebut menjadi salah satu faktor utama adanya gerakan sosial yang bertujuan mengembalikan kesejahteraan sosial serta ekonomi di tengah masyarakat Banten.

Penulis: Ilham Aulia Japra

BERITA TERKAIT

Apa pendapat anda tentang berita diatas

- Advertisement -spot_img

PALING SERING DIBACA

- Advertisement -spot_img

Terkini