Damar Banten -Kabupaten Pandeglang menjadi contoh nyata bagaimana dinamika pembangunan di Indonesia seringkali diwarnai oleh kontradiksi antara potensi ekonomi yang besar dan berbagai masalah sosial yang menjadi penghambat. Dalam kerangka pembangunan nasional yang berfokus pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, sektor pariwisata yang menjadi salah satu tonggak ekonomi daerah justru terjebak pada keterbatasan infrastruktur, ketidaksetaraan akses, dan risiko bencana yang belum terkelola dengan optimal — semua ini merupakan permasalahan inti yang dibahas dalam konteks pembangunan dan masalah sosial masyarakat Indonesia.
Potensi Ekonomi yang Tertahan oleh Masalah Sosial dan Infrastruktur
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Pandeglang telah menetapkan target ambisius menjaring 2,3 juta wisatawan pada tahun ini, dengan pengembangan destinasi baru seperti Kampung Kadu Kendi dan pemeliharaan kawasan wisata utama seperti Pantai Carita yang berhasil menjaga keamanan selama libur sekolah. Potensi ini seharusnya menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi lokal, menyerap tenaga kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar, dan mendorong perkembangan UMKM yang menjual produk khas daerah. Namun, realitas menunjukkan bahwa manfaat ini belum merata dan bahkan sebagian besar tertahan akibat masalah-masalah struktural.
Kasus nyata terjadi di desa terpencil di Kecamatan Cimanggu, di mana seorang suami harus ditandu sejauh 5 kilometer karena jalan akses yang rusak parah dan belum mendapatkan perbaikan. Kondisi ini tidak hanya mengganggu akses layanan kesehatan dasar yang merupakan hak masyarakat, tetapi juga menghalangi potensi pengembangan wisata alam seperti curug-curug yang terletak di wilayah tersebut. Di sisi lain, nelayan di Pantai Labuan menghadapi kesulitan yang sama beratnya — tidak adanya dermaga yang memadai membuat mereka terpaksa mendorong kapal hingga ke darat, menguras tenaga dan mengurangi efisiensi kerja. Hal ini berdampak langsung pada pendapatan keluarga nelayan, yang sebagian besar termasuk dalam kelompok berpenghasilan rendah, sehingga memperkuat pola ketidaksetaraan ekonomi yang sering muncul dalam proses pembangunan daerah.
Bencana Alam sebagai Konsekuensi dari Pembangunan yang Tidak Berkelanjutan
Ancaman bencana alam seperti banjir yang setiap tahun melanda Desa Idaman dan peringatan BMKG terkait hujan lebat bukanlah masalah yang muncul secara tiba-tiba, melainkan konsekuensi dari kurangnya perencanaan pembangunan yang memperhatikan faktor lingkungan dan ketahanan masyarakat. Drainase yang tidak terawat, pembukaan lahan yang tidak terkendali, dan kurangnya sistem peringatan dini yang efektif menjadi bukti bahwa pembangunan di Pandeglang masih cenderung fokus pada target kuantitatif tanpa memperhatikan aspek kualitas dan keberlanjutan. Dampak bencana tidak hanya merusak infrastruktur yang telah dibangun dengan susah payah, tetapi juga mengakibatkan kerugian ekonomi yang signifikan bagi masyarakat dan menghambat upaya peningkatan kesejahteraan.
Peran Institusi dan Partisipasi Masyarakat dalam Penyelesaian Masalah
Dana desa yang mencapai Rp354 miliar tahun ini menjadi salah satu instrumen penting dalam upaya menangani masalah pembangunan di tingkat lokal. Namun, efektivitas penggunaan dana ini sangat tergantung pada kapasitas pemerintah desa dan partisipasi aktif masyarakat dalam perencanaan serta pengawasan. Saat ini, masih banyak desa yang belum mampu mengelola dana tersebut secara optimal untuk menangani masalah infrastruktur dan penanggulangan bencana, akibat kurangnya pemahaman tentang perencanaan pembangunan yang berbasis kebutuhan masyarakat serta sistem akuntabilitas yang belum transparan.
Perlu adanya sinergi yang lebih erat antara pemerintah kabupaten, kecamatan, desa, serta organisasi masyarakat sipil dalam merumuskan strategi pembangunan yang terpadu. Kerja sama dengan sektor swasta juga perlu ditingkatkan tidak hanya dalam pengembangan infrastruktur pariwisata, tetapi juga dalam pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan, dermaga, dan sistem pengelolaan air. Selain itu, pendidikan dan penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan hidup serta berperan aktif dalam upaya penanggulangan bencana menjadi hal yang tak bisa diabaikan, karena pembangunan yang berkelanjutan hanya dapat terwujud jika didukung oleh kesadaran dan partisipasi seluruh elemen masyarakat.
Harapan untuk Pembangunan yang Berpihak pada Masyarakat
Kita berharap bahwa berbagai tantangan yang dihadapi Pandeglang tidak hanya dilihat sebagai masalah teknis semata, tetapi sebagai bagian dari dinamika pembangunan yang kompleks yang membutuhkan pendekatan menyeluruh. Dengan mengutamakan kesejahteraan masyarakat, memperbaiki akses terhadap layanan dasar, mengelola potensi ekonomi secara berkelanjutan, dan meningkatkan ketahanan terhadap bencana alam, Pandeglang memiliki kesempatan untuk menjadi contoh pembangunan daerah yang sukses di Banten. Hal ini sejalan dengan tujuan utama pembangunan nasional yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga keadilan sosial dan kualitas hidup masyarakat yang lebih baik.
Penulis : Iman Maulana
Dosen Pembimbing : ANGGA ROSIDIN, S.I.P., M.A.P
Kepala Program Studi : ZAKARIA HABIB AL-RA’ZIE, S.IP.,M.SOS

