Damar Banten – Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2025-2026 menemukan indikasi masalah kesehatan jiwa pada hampir 10% anak di Indonesia. Dari sekitar 7 juta anak yang menjalani skrining, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 4,4% mengalami gejala kecemasan (anxiety disorder). Dan 4,8% atau sekitar 363 ribu anak mengalami gejala depresi (depression disorder). Hal ini dijelaskan Budi Gunadi Sadikin dalam konferensi pers yang diselenggarakan di Kantor Kemenkes, Jakarta, Senin (09/03/2026).
“Ini menunjukkan masalah kesehatan jiwa pada anak sangat besar,” ujar Budi sebagaimana dilansir laman kemenkes.go.id.
Budi menilai, persoalan ini tidak hanya dipengaruhi faktor individu, tetapi juga keluarga, pertemanan, dan lingkungan belajar. Menurutnya, penanganan perlu melibatkan pendidikan pola asuh, sosialisasi life skill, serta Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP).
“Yang perlu diperbaiki bukan hanya anaknya, tetapi juga pola asuh keluarga serta lingkungan belajar. Kita perlu mensosialisasikan life skill dan Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP).” Katanya.
Kolaborasi SKB Kesehatan Jiwa Anak
Menindaklanjuti temuan CKG, Kemenkes menargetkan perluasan skrining hingga 25 juta anak, dengan hasilnya akan ditindaklanjuti oleh Puskesmas. Pemerintah juga mendorong guru BK dan guru kelas mendampingi siswa yang terdeteksi gejala, memperluas skrining hingga 25 juta anak, serta menyiagakan tenaga psikolog dan layanan krisis kesehatan jiwa melalui Healing119.id.
Upaya deteksi dini ini diperkuat melalui penandatanganan Surat Keputusan Bersama (SKB) Kesehatan Jiwa Anak oleh sembilan kementerian dan lembaga pada 5 Maret 2026. SKB ini membangun sistem penanganan terpadu mulai dari pencegahan hingga pengobatan, serta menjamin kerahasiaan data pribadi anak untuk mencegah stigma.
Sembilan instansi yang terlibat antara lain Kemenkes, KemenPPPA, Kemendikdasmen, Kemendukbangga/BKKBN, Kemenag, Kemendagri, Kemensos, Komdigi, dan Polri.
Penulis : Mardiah

