Soal Hidup Di Masa Pandemi Covid-19

Hari ini Zulfira (55) sibuk sekali. Ia ikuti zoom meetting 5 kali. Bahkan 3 zoom metting dilakukan dalam waktu bersamaan. Zul, begitu panggilannya, menggunakan 2 laptop dan 1 handphone. Saking hebohnya, ia kirim foto kesibukannya hari ini di facebook miliknya. Ada komentar dari temannya, luar biasaaa … !.

Itulah ekspresi orang kantoran saat ini. Hidup dan kerjanya disibukkan dengan rapat atau diskusi online. Dalam satu rumah, anaknya bisa saja bertahan di kamar seharian dengan HP-nya. Itupun kalau hari libur. Hari biasa, situasinya akan sama, sekolah online. Istrinya juga sibuk dengan rapat online. Istrinya pegawai pemerintah kabupaten, jika tak ikut rapat kantor online itu, bisa buruk akibatnya. Zulfira sendiri bekerja di kantor organisasi lingkungan hidup itu sudah lebih 15 tahun. Dan masa pandemic covid-19 ini memberi pengalaman baru dan pertama kalinya. Jika keluar rumah, haruslah ikuti protokol Kesehatan: pakai masker, jaga jarak dan cuci tangan. Karena setidaknya dua (2) kali dalam seminggu, Zul  harus masuk kantor. Istrinya yang PNS masuk kantor hampir 3 – 4 hari dalam seminggu.

Zulfira dan keluarga adalah satu gambaran gaya hidup saat pandemic covid-19. Pengalaman yang kebanyakan sama dengan keluarga lain yang berpendidikan dan orang kantoran. Kebiasaan baru melekat dalam aktivitas kesehariannya.

Beda lagi dengan Awang (30), tukang ojek. Ia terlihat pakai masker kalau pas ada penumpang. Sisa waktunya hanya duduk, tanganya menyangga kepala, diam. Tidak banya lagi orang gunakan jasa ojeknya. Menunggu di sekitar stasiun commuterline, “… paling banyak 2 penumpang sehari,” katanya. Kadang ia kerja serabutan bantu-bantu keluarga untuk urusan kecil perbaikan atap atau halaman rumah. Masa pandemic tidak memberi kebiasaan baru, tapi pengalaman baru, penghasilan kerja yang jauh dari cukup untuk keluarganya. Hutang pada penumpang langganannya pun tidak mampu ia lakukan. Penumpang ojek secara rutin tidak ada lagi, penghasilanpun tidak ada.

Ada kisah lain yang menarik dari pak Roji (56) tahun, orang yang tinggal di pinggiran Kabupaten Bogor.  Sehari-hari ia menawarkan jasanya membersihkan halaman rumah di lingkungan perumahan ia tinggal. Tidak pernah melihatnya pakai masker. Jelas bukannya tidak mau, tapi tidak ada uang untuk beli masker. Pernah satu kali, tetanggnya memberi ia masker tapi tidak dipakainya. Pak Roji tidak tertarik pada urusan Covid-19. Yang ia pedulikan hanya bertahan hidup. Musim hujan membuatnya banyak nganggur, tidak ada pekerjaan bersihkan rumput halaman rumah. Pak Roji tidak dapat bantuan sosial?. “… Ada, makanan,” jawabnya. Uang? “.. Ada katanya,” Kita harus menahan nafas mendengar kisah-kisah seperti ini. Tidak bisa bertanya lebih jauh kalau juga tidak bisa membantu mengurusnya. Nasib Pak Roji tidak banyak yang peduli, ia hanya orang tidak berpendidikan, tukang bersih rumput. Masa pandemi dilihatnya sebagai kesepian kerja yang panjang.

Kebiasaan baru masa pandemi Covid-19 masuk, menambah cerita sedih  dalam ketimpangan yang sudah ada. Memaksa kualitas hidupnya turun drastis. Yang miskin semakin tidak berdaya. Yang kaya bisa bertahan dengan keanehan sistem gaji yang tidak berubah.

Bagi millennial, masa pandemi bisa saja jadi manfaat. Covid-19 rasanya tidak bisa menghentikannya. Tetap bergaya di media sosial, postingan lancar di Instagram dan IG Story. Tetap nongkrong di café kopi. Sekolah dan kuliah lancar online. Nilai akhir semester bagus dan tetap kreatif. Kadang sebagian dari mereka dapat julukan, sarjana online.

Pandemi Covid-19 telah melewati umur satu tahun lebih. Data kematian karena penyakit ini diumumkan terbuka cadn rutin. Secara nasional, angka kematian karenanya tidak kunjung turun. Khabarnya selalu membuat getir semua orang.

Yang pasti, belanja online semakin tinggi. Aplikasi untuk fasilitasi orang belajar, orang kerja semakin banyak penggunanya. Tidak perlu survei untuk hal ini. Sudah amat jelas di depan mata. Bisnis hotel dan wisata teriak minta ampun, sepi. Warung-warung makanan yang mengandalkan mobilitas kehadiran orang dan tidak gunakan jasa aplikasi, bangkrut dan tutup. Berita dan kahabar apa pun semakin liar, menjurus hoax dengan seenaknya, sampai pada titik kabur mana yang benar, mana yang bohong. Tidak jelas dan tidak bisa dimengerti oleh kebanyakan orang.

Masa pandemi Covid-19 tidak hanya memberi kebiasaan baru, tapi keanehan hidup yang luar biasa. Yang bertahan itulah nanti yang akan jadi saksi sejarah. Apakah itu kamu?

Penulis: Andik Hardianto

BERITA TERKAIT

Apa pendapat anda tentang berita diatas

- Advertisement -spot_img

PALING SERING DIBACA

- Advertisement -spot_img

Terkini