Damar Banten- Perubahan sosial merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia, perubahan tersebut sering kali dipengaruhi oleh perkembangan pemikiran sosial yang berasal dari Barat. Teori sosial Barat lahir dari pengalaman masyarakat Eropa yang menghadapi modernisasi, industrialisasi, dan pergeseran nilai budaya secara besar-besaran. Kondisi inilah yang kemudian memunculkan berbagai teori untuk memahami dinamika sosial masyarakat.
Masyarakat Barat dikenal memiliki budaya yang menekankan rasionalitas, kebebasan individu, dan orientasi pada kemajuan ekonomi. Revolusi Industri menjadi titik balik penting yang mengubah masyarakat agraris menjadi masyarakat industri. Perubahan tersebut membawa kemajuan, tetapi juga menimbulkan persoalan sosial seperti kesenjangan ekonomi, konflik kelas, dan melemahnya ikatan sosial. Situasi ini mendorong para pemikir seperti Karl Marx, mile Durkheim, dan Max Weber untuk merumuskan teori sosial yang hingga kini masih digunakan sebagai alat analisis sosial.
Jika kita melihat kondisi masyarakat Banten, terdapat perbedaan yang cukup jelas dengan masyarakat Barat. Banten dikenal sebagai daerah yang memiliki akar budaya dan religius yang kuat. Peran ulama, pesantren, dan tokoh masyarakat masih menjadi penopang utama kehidupan sosial. Nilai gotong royong, kebersamaan, dan penghormatan terhadap tradisi lokal masih hidup di tengah masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan.
Namun, arus modernisasi juga tidak dapat dihindari. Kawasan industri di Tangerang, Cilegon, dan Serang telah membawa perubahan besar dalam pola kehidupan masyarakat Banten. Urbanisasi, sistem kerja industri, serta masuknya budaya luar perlahan menggeser pola interaksi sosial yang sebelumnya bersifat komunal menjadi lebih individualistis. Di sinilah teori sosial Barat menjadi relevan untuk membantu membaca realitas sosial yang sedang berubah.
Meski demikian, teori sosial Barat tidak bisa diterapkan secara langsung tanpa mempertimbangkan konteks lokal. Masyarakat Banten memiliki nilai budaya dan agama yang tidak selalu sejalan dengan asumsi masyarakat Barat. Oleh karena itu, teori sosial Barat seharusnya diposisikan sebagai alat bantu analisis, bukan sebagai kebenaran mutlak. Pendekatan sosial yang menggabungkan teori Barat dengan kearifan lokal akan lebih mampu menjelaskan dinamika masyarakat Banten secara utuh.
Pada akhirnya, perubahan sosial di Banten merupakan proses yang terus berlangsung. Tantangan terbesar adalah bagaimana masyarakat mampu beradaptasi dengan modernisasi tanpa kehilangan identitas budaya dan nilai-nilai sosialnya. Dengan sikap kritis terhadap teori sosial Barat dan kesadaran akan kekuatan budaya lokal, masyarakat Banten dapat menghadapi perubahan zaman secara lebih bijaksana dan berakar pada jati diri daerahnya.
PENULIS : SITI ALIFAH DAMAYANTI
DOSEN PEMBIMBING : ANGGA ROSIDIN, S.I.P., M. A. P.
KEPALA PROGRAM STUDI : ZAKARIA HABIB AL-RA’ZIE, S.IP., M.SOS.
PROGRAM STUDI ADMINISTRASI NEGARA UNIVERSITAS PAMULANG KAMPUS SERANG

