Damar Banten- Kabupaten Pandeglang memiliki potensi ekonomi yang sangat besar, terutama di sektor pertanian, perikanan, dan pariwisata. Letak geografis yang strategis serta kekayaan sumber daya alam seharusnya menjadi modal utama bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Namun kenyataannya, pertumbuhan ekonomi Pandeglang belum sepenuhnya berdampak pada peningkatan taraf hidup masyarakat secara merata.
Struktur ekonomi Pandeglang hingga saat ini masih didominasi oleh sektor primer, khususnya pertanian dan perikanan tradisional. Ketergantungan pada sektor ini membuat perekonomian daerah rentan terhadap perubahan cuaca, fluktuasi harga, serta keterbatasan akses pasar. Banyak petani dan nelayan masih berada pada posisi lemah dalam rantai ekonomi karena minimnya modal, teknologi, dan perlindungan kebijakan.
Di sisi lain, sektor pariwisata yang berkembang pesat di beberapa wilayah Pandeglang belum sepenuhnya memberikan efek ekonomi yang signifikan bagi masyarakat lokal. Aktivitas ekonomi pariwisata sering kali lebih menguntungkan investor dan pelaku usaha besar, sementara masyarakat sekitar hanya menjadi penonton atau pekerja dengan pendapatan terbatas. Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi belum diiringi dengan pemerataan manfaat.
Persoalan lain yang cukup krusial adalah keterbatasan lapangan kerja formal. Hal ini mendorong sebagian besar penduduk usia produktif bekerja di sektor informal dengan pendapatan tidak tetap dan minim jaminan sosial. Tanpa strategi industrialisasi berbasis potensi lokal dan peningkatan kualitas sumber daya manusia, Pandeglang berisiko terus tertinggal dibandingkan daerah lain.
Pemerintah daerah perlu mendorong kebijakan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Penguatan ekonomi kerakyatan melalui koperasi, UMKM, dan akses pembiayaan yang adil harus menjadi prioritas. Selain itu, pembangunan infrastruktur ekonomi, peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan kerja, serta perlindungan terhadap pelaku ekonomi kecil sangat dibutuhkan agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya dinikmati oleh segelintir pihak.
Pada akhirnya, pembangunan ekonomi Pandeglang tidak cukup diukur dari angka pertumbuhan semata, tetapi dari sejauh mana kesejahteraan masyarakat meningkat secara nyata. Dengan pengelolaan potensi daerah yang adil dan berpihak pada rakyat, Pandeglang memiliki peluang besar untuk keluar dari ketertinggalan dan membangun ekonomi daerah yang lebih mandiri dan berkeadilan.
Karl Marx membagi masyarakat ke dalam dua kelas utama, yakni kelas pemilik modal (borjuis) dan kelas pekerja (proletariat). Dalam konteks Pandeglang, kelas borjuis dapat dilihat pada kelompok pemilik lahan, pengusaha, serta pihak yang menguasai akses modal dan pasar. Sementara itu, mayoritas masyarakat Pandeglang berada pada posisi proletariat, seperti petani kecil, buruh tani, nelayan, dan pekerja sektor informal yang menggantungkan hidup pada tenaga kerja mereka.
Menurut Karl Marx, ketimpangan sosial terjadi karena adanya penguasaan alat-alat produksi oleh segelintir kelompok. Situasi ini tercermin di Pandeglang, di mana masyarakat kelas bawah bekerja keras namun hasil ekonomi yang diperoleh relatif kecil. Nilai lebih dari hasil kerja mereka sering kali dinikmati oleh pemilik modal atau perantara ekonomi, sehingga kesejahteraan tidak terdistribusi secara adil.
PENULIS : SITI NURMALA SULISTIAWATI
DOSEN PEMBIMBING : ANGGA ROSIDIN, S.I.P., M. A. P.
KAPRODI : ZAKARIA HABIB AL-RA’ZIE, S.IP., M.SOS.
PROGRAM STUDI ADMINISTRASI NEGARA UNIVERSITAS PAMULANG KAMPUS SERANG

