Damar Banten – Sejumlah akademisi menyoroti latar belakang historis dan ekonomi di balik konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran dalam webinar bertajuk Webinar Economic Imperatives of War yang digelar secara daring (13/04/2026).
Ekonom Jomo Kwame Sundaram menjelaskan bahwa konflik tersebut tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan berakar dari perubahan tatanan dunia sejak runtuhnya dominasi Inggris pasca Perang Dunia dan menguatnya peran Amerika Serikat.
Ia menyinggung peristiwa penting seperti Krisis Terusan Suez 1956 hingga kebijakan ekonomi Amerika pada 1970-an sebagai titik balik global. “Ini bukan kejadian tiba-tiba, tapi hasil proses panjang,” ujarnya.
Jomo juga menyoroti intervensi Barat di Iran sejak 1953, saat pemerintahan Perdana Menteri Mohammad Mossadegh digulingkan setelah menasionalisasi industri minyak. Menurutnya, keterlibatan intelijen Amerika menjadi awal dari ketegangan berkepanjangan. “Sejak itu, konflik terus berlanjut sampai sekarang,” katanya.
Ketimpangan Belanja Militer
Peneliti Eleonora Gentilucci mengungkapkan ketimpangan besar dalam belanja militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Pada 2024, Amerika Serikat mengalokasikan 968 miliar dolar AS, Israel 45 miliar dolar AS, sementara Iran hanya 6,6 miliar dolar AS.
“Rasionya sampai 153 banding 1, ini sangat timpang,” ujarnya.
Ia menyebut ketimpangan tersebut bersifat struktural dan telah berlangsung selama puluhan tahun tanpa pernah mencapai keseimbangan. Bahkan, kapasitas militer Iran terus tertekan sejak Revolusi Iran 1979 dan sanksi ekonomi yang berkepanjangan. “Tidak pernah ada momen setara,” katanya.
Selain itu, analisis menunjukkan bahwa jika Iran tidak mengalami tekanan ekonomi dan sanksi, belanja militernya bisa mencapai sekitar 22,9 miliar dolar AS pada 2024. “Ada selisih besar yang jadi kerugian jangka panjang,” ujarnya.

Perkuat Militerisasi
Profesor Surajit Mazumdar menilai bahwa meningkatnya konflik dan militerisasi merupakan dampak dari sistem globalisasi itu sendiri. Menurutnya, dominasi Amerika pasca-Perang Dingin menciptakan kondisi yang memperkuat kapitalisme global sekaligus ketimpangan kekuatan.
“Ini bagian dari sistem, bukan anomali,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut juga berdampak pada negara berkembang, termasuk India, yang kini memiliki peran strategis di kancah global. “Negara berkembang ikut terdampak dari dinamika ini,” katanya.
Para akademisi sepakat bahwa peningkatan anggaran militer global terjadi di tengah keterbatasan anggaran pembangunan, terutama di negara berkembang. Kondisi ini dinilai berpotensi memperlebar ketimpangan dan menghambat pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.
Penulis: Ayu Lestari

