By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Damar BantenDamar BantenDamar Banten
  • Beranda
  • Utama Damar Banten
  • Seputar Banten
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Wisata-Budaya
  • Olahraga
  • opini
  • Figur
  • Video
Reading: Mengenal Sejarah Debus Banten, Ini Bedanya Dulu dan Sekarang
Share
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Damar BantenDamar Banten
  • Beranda
  • Utama
  • Seputar Banten
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Wisata-Budaya
  • Olahraga
  • opini
  • Figur
  • Seputar Banten
  • Komunitas
  • Utama
  • Ekonomi – Bisnis
  • Wisata dan Budaya
  • Olah Raga
  • Figur
  • Sorotan
  • Contact
  • Blog
  • Complaint
  • Advertise
  • Advertise
© 2026 Damar Banten.
BudayaLintas Banten

Mengenal Sejarah Debus Banten, Ini Bedanya Dulu dan Sekarang

Last updated: Mei 13, 2023 12:22 am
3 tahun ago
Share
2 Min Read
SHARE

Serang, Damar Banten – Debus merupakan kesenian tradisional yang berasal dari Provinsi Banten yang menampilkan atraksi kekebalan tubuh manusia dari benda tajam.

Yayat Supriatna, Sekretaris Perkumpulan Debus Banten Indonesia (PDBI) mengungkapkan, Debus Banten pertama kali dibawa oleh ulama Timur Tengah yang bernama Syekh Rifa’i.

“Awalnya, Debus digunakan untuk ujian di pesantren. Kemudian berkembang pada Masa Kesultanan Banten, Debus berfungsi sebagai sarana untuk menyebarkan agama Islam,” kata Yayat kepada Damar Banten. Jumat, (12/05/2023).

Dirinya mengungkapkan, pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, kesenian Debus digunakan untuk menghadapi penjajahan Belanda.

“Masa kesultanan ini, ada perlawanan terhadap penjajahan Belanda, pada waktu itu, ilmu Debus diterapkan kepada para prajurit khusus untuk melawan pasukan Belanda,” katanya.

Dalam perkembangannya, kesenian Debus mengalami pergeseran dan perubahan dari segi ritual, gaya pertunjukan, serta tujuan yang ingin dicapai.

“Tujuan yang sekarang itu sebagai pelestarian seni budaya aja,” ujar Yayat.

Lebih lanjut, dirinya mengatakan, Debus tempo dulu tidak menggunakan iringan musik, kini kesenian Debus digunakan sebagai alat hiburan masyarakat dengan menggunakan iringan musik.

“Dari segi keilmuan juga ada pergeseran. Kalo dulu memakai tarekat. Kalo sekarang memakai ilmu-ilmu yang secara instan seperti puasa,” katanya.

Dengan adanya pergeseran tersebut, Yayat berharap Debus tidak kehilangan marwahnya, karena Debus merupakan maha karya yang sangat tinggi yang diciptakan oleh para leluhur kita.

“Bahwa pelestarian seni budaya ini merupakan tanggungjawab bersama,” tegasnya.

Penulis : Hamidah

You Might Also Like

Arus Mudik Malam di Pelabuhan Ciwandan Ramai, Pemudik Pilih Menyeberang Usai Berbuka
Pemudik Laka Tunggal, PMI Cilegon Sigap Beri Pertolongan
Pemkot Tangerang Rampungkan Perbaikan Jalan Strategis Jelang Mudik Lebaran 2026
Bupati Maesyal Rasyid Apresiasi Kinerja ASN Setahun Kepemimpinan
Bupati Ajak MUI Edukasi Generasi Muda dari Dampak Negatif Media Sosial
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Find Us on Socials

Berita Terkait

Bupati Maesyal Rasyid Motivasi Atlet Kabupaten Tangerang Hadapi Porprov Banten 2026

1 minggu ago

Wabup Intan Hadiri Kegiatan Saber-Rahmat di Masjid Al Jihad Balaraja

1 minggu ago

Menhub Sidak Jalur Pantura, Truk Sumbu Tiga Dilarang Melintas Saat Mudik

1 minggu ago

H-7 Idul Fitri, Arus Mudik di Pelabuhan Ciwandan Masih Lancar

1 minggu ago

Damar BantenDamar Banten
© 2026 Damar Banten | PT. MEDIA DAMAR BANTEN Jalan Jakarta KM 5, Lingkungan Parung No. 7B Kota Serang Provinsi Banten
  • Iklan
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?