Andai Menteri BUMN Mau Koperasikan BUMN

Mungkin anda termasuk orang yang sering mendengarkan slogan ini : koperasi adalah soko guru ekonomi!. Anda mungkin termasuk orang yang ikut terbius oleh slogan yang sering diucapkan oleh pejabat pemerintah, politisi atau tokoh masyarakat ini.

Lupakan, semua itu tak lebih hanyalah sebuah slogan. Mimpi di siang bolong yang tak akan mungkin direalisasikan oleh pejabat, politisi atau tokoh masyarakat itu. Semua itu anggaplah hanya nyanyian sunyi. Pengantar tidur siang bolong. Siang yang panas terik di tengah hidup yang mencekik!.

Mari kita lihat apakah koperasi itu benar benar jadi soko guru?.

Menurut Kementerian Koperasi dan UKM, tahun 2019 kontribusi koperasi terhadap ekonomi kita, atau Produk Domestik Bruto (PDB) itu angkanya hanya 5,1 persen dari total PDB kita.

Menteri Koperasi dan UKM sejak tahun 2019 hingga tahun 2024 nanti hanya targetkan naik jadi 5,5 persen! Hanya 0,4 persen dalam 5 tahun!

Itu menurut Kemenkop dan UKM, kalau menurut teman saya Profesor Johny W Situmorang, dosen senior dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI), dan peneliti koperasi senior di Kemenkop dan UKM malahan sadis hasil temuanya : kontribusi koperasi terhadap PDB hanya 0,0038 persen pada tahun 2020!!.

Jadi koperasi sebagai soko guru itu hanya isapan jempol belaka. Hanya nyanyian di siang bolong pengantar sulit tidur. Jangankan soko guru, soko pinggiran saja tidak ada. Hanya slilit, remah sisa makanan yang menempel di sela gigi pengusaha pengusaha kapitalis!

Pendiri republik Indonesia ini, Bapak koperasi Bung Hatta sebetulnya tidak salah ketika beliau berharap koperasi itu jadi soko guru ekonomi. Sebab beliau tahu persis, kalau koperasi jadi soko guru itu maka ekonomi kita itu akan menjadi adil dan merata. Rakyat banyak yang makmur sentosa tidak seperti saat ini.

Kenapa demikian? Karena koperasi itu pada dasarnya suatu sistem yang memberikan kesempatan semua orang jadi pemilik dan pengontrol perusahaan.

Sebagai pemilik mereka akan mendapatkan bagian keuntunganya. Tidak hanya dikangkangi segelintir orang baik itu elit penguasa dan elit kaya seperti saat ini. Masyarakat dapat ikut tentukan keputusan perusahaan termasuk ikut memilih siapa yang jadi komisaris perusahaan dan direksi.

Penulis adalah praktisi koperasi dari sejak kuliah dulu. Penulis adalah pendiri dan penasehat Koperasi dan sampai saat ini jadi CEO dari satu induk koperasi, sebuah gabungan koperasi koperasi. Koperasi ini memang riil dapat dipraktekkan seperti maunya pendiri republik ini.

Prakteknya, perusahaan koperasi yang penulis dirikan www.kopkun.com itu dapat betul betul jalan. Bank itu juga dapat dimiliki oleh nasabahnya seperti seperti praktek koperasi kredit www.cucoindo.org yang dirintis oleh seorang Pater Jesuit Albreht Kariem Arbie itu dapat berjalan. Koperasi semacam bank ini anggotanya sekarang ada 3.6 juta orang dan sebagai jaringan ada di 918 koperasi yang tersebar di 30 an propinsi. Kekayaan yang berasal dari tabungan anggota mereka ada 36 trilyun rupiah lebih.

Di Singapura juga penulis lihat dengan mata kepala sendiri, bahwa jaringan toko terbesar disana itu koperasi. Jaringan toko ritel NTUC Fair Price dan asuransi terbesar NTUC Income itu bentuknya koperasi dan dapat berjalan sebagai sebuah perusahaan raksasa yang dimiliki rakyat langsung dan kuasai pangsa pasar ritel hingga 63 persen.

Tak hanya di Singapura negara tetangga, di Amerika Serikat separuh dari penduduknya adalah anggota koperasi. Mereka hasilkan koperasi kelas dunia dan sumbang 26 persen atau 77 koperasi dari 300 koperasi dunia yang dirilis oleh International Cooperative Alliance (ICA) pada tahun 2020.

Koperasi di Amerika Serikat yang kita tuduh sebagai negara kapitalis disana betul betul jadi raja dalam mengelola ekonomi domestik mereka. Dari koperasi milik petani jeruk Sunkist hingga listrik National Rural Elextricity Cooperative Association (NRECA) yang beroperasi di seluruh negara bagian, koperasi rumah sakit terbesar milik warga kota Washington seperti Group Health Cooperative (GHC) dan lain sebagainya.

Apalagi negara negara Eropa dan Canada yang merupakan negeri kampiun koperasi. Di Sweden itu setiap sudut kotanya penuh koperasi. Penulis ketika ke Sweden itu dimana mana dapati koperasi konsumen COOP KONSUM di tiap tiap sudut kota..

Di Spanyol, cabang olah raga dan termasuk seperti Barcelona Football Club itu adalah milik fans mereka yang jumlahnya hingga 170 an ribu orang. Perusahaan Koperasi Mondragon adalah perusahaan terbesar di Basque, negara bagian utara Spanyol.

Di Canada gedung gedung megah itu adalah bank koperasi seperti Desjardins yang pernah jadi bank terbaik di negara itu tahun 2010 dan lain lain. Koperasi pertanianya La Federe di kota Quebec, Canada benar benar mampu menendang korporat kapitalis mafia kartel pangan disana.

Negara negara itu adalah penyumbang 300 koperasi besar dunia dengam total kekayaan 300 koperasi itu sama dengan total PDB negara Spanyol. Dengan catatan besar : tak satupun dalam laporan 300 koperasi besar dunia sebagaimana dilaporkan ICA tahun 2020 itu berasal dari Indonesia.

Ketika koperasi berkembang dimana mana sebetulnya ekonomi akan kuat, karena rakyat akan tak sulit mendapatkan pekerjaan, hasilkan pendapatan dan berbagi kekayaan secara adil. Lingkungan alam juga akan semakin lestari karena rakyat akan ikut menjaga. Tidak membuat segelintir orang menjadi kaya raya dan rakyat banyak menjadi miskin dan sengasara seperti di Indonesia saat ini!

Menurut lembaga riset bereputasi tinggi Suissie Credit laporkan, Rasio Gini Kekayaan alias perhitungan tingkat kesenjangan ekonomi kita itu sudah keterlaluan. Tahun 2020 dilaporkan angkanya 0,77. Ini hitunganya dari skala angka 0 hingga 1. Jadi kalau angka 1 itu artinya kekayaan itu hanya menumpuk pada satu orang. Kita semua tidak punya sama sekali. Ini juga tidak mungkin.

Dari segi pemilikan kekayaan, kesenjanganya jika dibandingkan dengan rata rata dunia terlalu jauh. Orang dewasa Indonesia yang punya kekayaan di bawah 150 juta itu jumlahnya 82 persen. Rata rata dunia hanya 58 persen. Mereka yang kekayaannya 1.5 milyard lebih hanya 1.1 persen. Rata rata dunia adalah 10.6 persen.

Mereka yang kaya itu jika dibandingkan dengan rata rata dunia sudah keterlaluan kesenjanganya. Mereka yang kaya di Indonesia ini ultra kaya dan yang miskin keterlaluan miskinya.

Angka Rasio Gini Kekayaan sudah 0,77 itu berarti nyaris sempurna. Dan ini terbukti dari laporan lembaga OXFARM yang laporkan 4 anggota keluarga di Indonesia itu kekayaanya sama dengan 100 juta rakyat kita dari yang termiskin.

Setelah melihat fakta tersebut, kalau koperasi dijadikan soko guru ekonomi mungkin orang ikut setuju. Bagaimana tidak? Karena koperasi ini bisa memungkinkan setiap orang untuk jadi pemilik perusahaan. Konsumen saja bisa jadi pemilik perusahaan. Tidak seperti dalam model korporasi kapitalis. Siapa yang punya modal dialah yang jadi pemilik perusahaan.

Sebetulnya untuk mengkoperasikan Indonesia itu mudah saja. Tinggal koperasikan semua BUMN yang ada. Kalau mau…sekali lagi kalau pejabat pejabat itu mau menegakkan ekonomi koperasi, demokrasi ekonomi seperti yang diperintahkan Konstitusi.

Contohnya yang bisa dikoperasikan segera adalah PLN, perusahaan ini jika dirombak jadi koperasi maka akan ada 80 juta orang langsung pelanggan menjadi pemilik perusahaan ini. Sehingga rakyat banyak sebetulnya akan mampu melihat perbedaanya seperti apa. Contoh prakteknya sudah ada di dunia ini, salah satunya NRECA seperti di Amerika Serikat dan banyak koperasi listrik di negara lain seperti Belgia, Di Finlandia, Dll.

Secara aturan sebetulnya juga tinggal meronbak kata kata yang selama ini kerdilkan, dan diskriminatif terhadap koperasi di dalam UU BUMN (Badan Usaha Milik Negara) yang sebut BUMN “wajib berbadan hukum Perseroan. Tinggal diganti ” BUMN wajib berbadan hukum Koperasi’ bukan?.

Setelah PLN sukses dikoperasikan dan rakyat ikut kendalikan perusahaan raksasa secara langsung maka perlahan dapat disusul koperasikam Bank Mandiri, Bank BNI, Bank BRI dan 118 BUMN lainya.

Jadi tidak seperti saat ini, koperasi malah digencet lewat BUMN Holding Ultra Mikro yang jelas jelas bunuh koperasi. Bagaimana Pak Erick Tohir? Pak Menteri BUMN? Kalau bapak setuju saya siap bantu untuk transformasi!!

Jakarta, 19 Januari 2022

Penulis : Suroto, Ketua AKSES (Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis) dan CEO INKUR Federation (Induk Koperasi Usaha Rakyat)

BERITA TERKAIT

Apa pendapat anda tentang berita diatas

- Advertisement -spot_img

PALING SERING DIBACA

- Advertisement -spot_img

Terkini