Damar Banten – Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan generasi muda. Platform seperti Instagram, TikTok, X, dan YouTube tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai sumber informasi, ruang ekspresi diri, bahkan tolok ukur eksistensi. Kehadiran media sosial yang begitu masif ini secara perlahan membentuk pola pikir generasi muda,baik dalam cara berpikir, bersikap, maupun memandang diri sendiri dan lingkungan sekitarnya.
Salah satu dampak paling nyata adalah perubahan cara berpikir yang cenderung instan. Media sosial menyajikan informasi dalam bentuk singkat, cepat, dan visual. Akibatnya, generasi muda semakin terbiasa mengonsumsi konten tanpa proses analisis yang mendalam. Banyak dari mereka lebih mudah menerima informasi mentah, termasuk hoaks atau opini subjektif, tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu. Pola pikir kritis pun berisiko melemah jika kebiasaan ini terus berlanjut.
Di sisi lain, media sosial juga membentuk standar sosial yang sering kali tidak realistis. Kehidupan yang ditampilkan di media sosial umumnya adalah versi terbaik,penuh pencapaian, penampilan sempurna, dan kebahagiaan tanpa cela. Paparan semacam ini dapat memengaruhi pola pikir generasi muda dalam menilai kesuksesan dan kebahagiaan. Tidak sedikit yang kemudian membandingkan diri secara berlebihan, merasa tertinggal, minder, bahkan mengalami tekanan mental karena merasa hidupnya “tidak sebaik” apa yang mereka lihat di layar.
Namun, tidak adil jika media sosial hanya dilihat dari sisi negatif. Media sosial juga membuka ruang belajar dan peluang berkembang yang sangat luas. Generasi muda kini dapat mengakses ilmu, diskusi, dan inspirasi dari berbagai belahan dunia. Banyak anak muda yang terdorong untuk berpikir kreatif, kritis terhadap isu sosial, serta berani menyuarakan pendapatnya. Dalam konteks ini, media sosial justru dapat menjadi alat pembentuk pola pikir progresif dan terbuka.
Masalahnya bukan terletak pada media sosial itu sendiri, melainkan pada cara penggunaannya. Ketika media sosial digunakan tanpa kontrol dan literasi digital yang memadai, dampak negatif akan lebih dominan. Sebaliknya, jika digunakan secara bijak, media sosial dapat memperkaya wawasan dan membentuk pola pikir yang adaptif terhadap perubahan zaman.
Oleh karena itu, peran pendidikan dan lingkungan sangat krusial. Generasi muda perlu dibekali kemampuan literasi digital sejak dini,kemampuan memilah informasi, berpikir kritis, serta menjaga kesehatan mental di ruang digital. Orang tua, pendidik, dan masyarakat juga perlu hadir sebagai pendamping, bukan sekadar pengawas, agar generasi muda mampu menjadikan media sosial sebagai alat pengembangan diri, bukan sumber tekanan.
Pada akhirnya, media sosial adalah pisau bermata dua. Ia dapat membentuk generasi muda yang dangkal dan mudah terpengaruh, atau sebaliknya, melahirkan generasi yang kritis, kreatif, dan berdaya. Pilihan itu sangat bergantung pada kesadaran individu dan dukungan lingkungan dalam membentuk pola pikir yang sehat di era digital.
Penulis : Iman Maulana
Dosen Pembimbing : ANGGA ROSIDIN, S.I.P., M.A.PKepala Program Studi : ZAKARIA HABIB AL-RA’ZIE, S.IP.,M.SOS

