By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Damar BantenDamar BantenDamar Banten
  • Beranda
  • Utama Damar Banten
  • Seputar Banten
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Wisata-Budaya
  • Olahraga
  • opini
  • Figur
  • Video
Reading: Dampak media sosial terhadap pola pikir generasi muda
Share
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Damar BantenDamar Banten
  • Beranda
  • Utama
  • Seputar Banten
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Wisata-Budaya
  • Olahraga
  • opini
  • Figur
  • Seputar Banten
  • Komunitas
  • Utama
  • Ekonomi – Bisnis
  • Wisata dan Budaya
  • Olah Raga
  • Figur
  • Sorotan
  • Contact
  • Blog
  • Complaint
  • Advertise
  • Advertise
© 2026 Damar Banten.
opini

Dampak media sosial terhadap pola pikir generasi muda

Last updated: Januari 10, 2026 7:37 pm
23 jam ago
Share
3 Min Read
SHARE

Damar Banten – Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan generasi muda. Platform seperti Instagram, TikTok, X, dan YouTube tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai sumber informasi, ruang ekspresi diri, bahkan tolok ukur eksistensi. Kehadiran media sosial yang begitu masif ini secara perlahan membentuk pola pikir generasi muda,baik dalam cara berpikir, bersikap, maupun memandang diri sendiri dan lingkungan sekitarnya.

Salah satu dampak paling nyata adalah perubahan cara berpikir yang cenderung instan. Media sosial menyajikan informasi dalam bentuk singkat, cepat, dan visual. Akibatnya, generasi muda semakin terbiasa mengonsumsi konten tanpa proses analisis yang mendalam. Banyak dari mereka lebih mudah menerima informasi mentah, termasuk hoaks atau opini subjektif, tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu. Pola pikir kritis pun berisiko melemah jika kebiasaan ini terus berlanjut.

Di sisi lain, media sosial juga membentuk standar sosial yang sering kali tidak realistis. Kehidupan yang ditampilkan di media sosial umumnya adalah versi terbaik,penuh pencapaian, penampilan sempurna, dan kebahagiaan tanpa cela. Paparan semacam ini dapat memengaruhi pola pikir generasi muda dalam menilai kesuksesan dan kebahagiaan. Tidak sedikit yang kemudian membandingkan diri secara berlebihan, merasa tertinggal, minder, bahkan mengalami tekanan mental karena merasa hidupnya “tidak sebaik” apa yang mereka lihat di layar.

Namun, tidak adil jika media sosial hanya dilihat dari sisi negatif. Media sosial juga membuka ruang belajar dan peluang berkembang yang sangat luas. Generasi muda kini dapat mengakses ilmu, diskusi, dan inspirasi dari berbagai belahan dunia. Banyak anak muda yang terdorong untuk berpikir kreatif, kritis terhadap isu sosial, serta berani menyuarakan pendapatnya. Dalam konteks ini, media sosial justru dapat menjadi alat pembentuk pola pikir progresif dan terbuka.

Masalahnya bukan terletak pada media sosial itu sendiri, melainkan pada cara penggunaannya. Ketika media sosial digunakan tanpa kontrol dan literasi digital yang memadai, dampak negatif akan lebih dominan. Sebaliknya, jika digunakan secara bijak, media sosial dapat memperkaya wawasan dan membentuk pola pikir yang adaptif terhadap perubahan zaman.

Oleh karena itu, peran pendidikan dan lingkungan sangat krusial. Generasi muda perlu dibekali kemampuan literasi digital sejak dini,kemampuan memilah informasi, berpikir kritis, serta menjaga kesehatan mental di ruang digital. Orang tua, pendidik, dan masyarakat juga perlu hadir sebagai pendamping, bukan sekadar pengawas, agar generasi muda mampu menjadikan media sosial sebagai alat pengembangan diri, bukan sumber tekanan.

Pada akhirnya, media sosial adalah pisau bermata dua. Ia dapat membentuk generasi muda yang dangkal dan mudah terpengaruh, atau sebaliknya, melahirkan generasi yang kritis, kreatif, dan berdaya. Pilihan itu sangat bergantung pada kesadaran individu dan dukungan lingkungan dalam membentuk pola pikir yang sehat di era digital.

Penulis : Iman Maulana

Dosen Pembimbing : ANGGA ROSIDIN, S.I.P., M.A.PKepala Program Studi : ZAKARIA HABIB AL-RA’ZIE, S.IP.,M.SOS

You Might Also Like

Pembangunan Pandeglang: Antara Pertumbuhan dan Keadilan Sosial
Ekonomi Pandeglang: Potensi Besar, Kesejahteraan Masih Tertinggal
Teori sosial barat dan perubahan budaya masyarakat banten
Rasionalitas Pilihan Ekonomi Masyarakat Kota Serang di Tengah Perubahan Sosial: Perspektif Adam Smith
Kebaikan Bersama dalam Pilihan Ekonomi Masyarakat Kota Serang: Perspektif Aristoteles
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Find Us on Socials

Berita Terkait

Potensi Pariwisata dan Tantangan Pembangunan, Menata Ulang Strategi Pembangunan Berkelanjutan di Pandeglang

23 jam ago

Menghirup Racun di Kota Global: Polusi Jakarta dan Ironi Pembangunan yang Membunuh

19 jam ago

Hegemoni Fiskal dan Tergerusnya Keadilan: Bedah Kenaikan PPN 12% dalam Perspektif Konflik Kelas

19 jam ago

DPRD Banten Bahas APBD 2026: Gerindra Minta Optimalisasi Aset dan Belanja Tepat Sasaran

2 bulan ago

Damar BantenDamar Banten
© 2026 Damar Banten | PT. MEDIA DAMAR BANTEN Jalan Jakarta KM 5, Lingkungan Parung No. 7B Kota Serang Provinsi Banten
  • Iklan
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?