By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Damar BantenDamar BantenDamar Banten
  • Beranda
  • Utama Damar Banten
  • Seputar Banten
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Wisata-Budaya
  • Olahraga
  • opini
  • Figur
  • Video
Reading: Di Tengah Gejolak Global, Indonesia Butuh Persatuan, Bukan Narasi Krisis
Share
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Damar BantenDamar Banten
  • Beranda
  • Utama
  • Seputar Banten
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Wisata-Budaya
  • Olahraga
  • opini
  • Figur
  • Seputar Banten
  • Komunitas
  • Utama
  • Ekonomi – Bisnis
  • Wisata dan Budaya
  • Olah Raga
  • Figur
  • Sorotan
  • Contact
  • Blog
  • Complaint
  • Advertise
  • Advertise
© 2026 Damar Banten.
Figuropini

Di Tengah Gejolak Global, Indonesia Butuh Persatuan, Bukan Narasi Krisis

Last updated: April 8, 2026 10:40 pm
2 jam ago
Share
5 Min Read
SHARE

Damar Banten – Dunia saat ini tengah mengalami masa yang sulit. Konflik Rusia–Ukraina yang belum reda dan ketegangan yang meningkat di jalur energi penting seperti Selat Hormuz menunjukkan bahwa tatanan dunia sedang berubah. Vladimir Putin bahkan mengingatkan bahwa krisis energi di masa depan bisa jauh lebih buruk daripada pandemi COVID-19. Ini bukan hanya retorika, tetapi juga sinyal bahwa kita memasuki era ketidakpastian baru, di mana energi, pangan, dan stabilitas keuangan akan menjadi faktor penentu nasib bangsa.

Dalam situasi ini, negara-negara besar memperkuat koalisi mereka, menyusun strategi yang lebih solid, dan menjaga stabilitas dalam negeri sebagai pertahanan utama terhadap tekanan global. Ironisnya, justru di dalam negeri muncul narasi yang melemahkan, seolah Indonesia berada di ambang krisis ekonomi. Selain itu, muncul pula seruan politik ekstrem seperti pemakzulan presiden yang tidak hanya terlalu cepat, tetapi juga berpotensi mengguncang kestabilan nasional.

Kita harus mengakui dengan jujur bahwa narasi seperti ini bukan hanya keliru, tetapi juga berbahaya. Ia merusak kepercayaan masyarakat, mengganggu psikologi pasar, dan membuka peluang untuk ketidakpastian yang tidak perlu. Dalam ekonomi modern, persepsi seringkali menjadi kenyataan. Ketika kepercayaan terguncang, investasi berhenti, konsumsi menurun, dan pertumbuhan ekonomi melambat. Oleh karena itu, menyebarkan narasi krisis tanpa dasar yang kuat sama dengan melemahkan fondasi bangsa di saat kita seharusnya berdiri kokoh.

Padahal, kenyataannya berlawanan. Menteri Keuangan melaporkan bahwa hingga 31 Maret 2026, pendapatan negara sudah mencapai Rp574,9 triliun, meningkat 10,5 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan kekuatan fiskal Indonesia di tengah ketidakpastian global. Penerimaan pajak penghasilan (PPh) dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) menggambarkan ketahanan ekonomi yang nyata, bukan sekadar ramalan.

Lebih dari sekadar kebijakan ekonomi, negara hadir untuk melindungi rakyatnya. Dalam situasi harga energi dunia yang tidak menentu, pemerintah secara tegas menyatakan bahwa tarif BBM bersubsidi tidak akan mengalami kenaikan sampai akhir tahun. Keputusan ini mencerminkan komitmen moral bahwa di tengah gejolak global, negara tidak akan membiarkan rakyat menanggung beban sendirian. Ini menunjukkan keberpihakan nyata terhadap stabilitas sosial dan peningkatan daya beli masyarakat.

Arah kebijakan energi nasional justru menunjukkan optimisme besar, bahkan memproyeksikan potensi “kebanjiran solar” pada 2026. Meski istilah ini mungkin terdengar aneh bagi sebagian orang, ada lompatan strategi di baliknya: mempercepat hilirisasi energi lewat penguatan bahan bakar nabati berbasis sawit. Peralihan dari biodiesel B40 ke B50 bukan hanya soal teknis, tetapi juga simbol kemandirian energi bangsa.

Dengan implementasi mandatori B50 yang akan berlaku secara nasional mulai 1 Juli 2026, Indonesia sedang membangun fondasi baru—mengurangi ketergantungan pada impor energi, memperkuat industri domestik, sekaligus menciptakan nilai tambah dari dalam negeri. Ini adalah langkah berani, langkah strategis, dan langkah yang menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya bertahan dalam krisis global, tetapi juga berani memimpin arah perubahan.

Namun, semua capaian dan harapan hanya akan bermakna jika terpenuhi syarat utama: persatuan nasional. Tidak ada negara yang mampu bertahan di tengah badai global jika terpecah belah. Ekonomi pun tidak akan berkembang jika stabilitas politik rapuh. Sejarah menunjukkan bahwa bangsa besar bukanlah yang terbebas dari tantangan, melainkan yang mampu bersatu dalam menghadapinya.

Hari ini, Indonesia memiliki cukup sumber daya. Kita juga memiliki berbagai strategi dan peluang. Yang penting untuk kita jaga adalah satu hal mendasar: kepercayaan—baik antarsesama anak bangsa maupun terhadap kebijakan negara.

Kritik tetap esensial dalam demokrasi sebagai bagian dari kontrol dan penyeimbang kekuasaan. Kritik yang konstruktif harus berlandaskan data dan bertujuan untuk memperbaiki, bukan menghancurkan. Dalam konteks global yang penuh ketidakpastian, kita harus menghindari polarisasi yang melelahkan dan beralih ke konsolidasi, bukan konfrontasi.

Indonesia saat ini berada di titik penting dalam perjalanan sejarahnya. Di satu sisi, dunia penuh ketidakpastian. Di sisi lain, muncul peluang besar bagi negara yang mampu menjaga stabilitas dan memanfaatkan momentum ini. Pertanyaannya sederhana: apakah kita akan terpecah karena narasi pesimis atau bersatu dalam semangat optimisme?

Jawabannya akan menentukan masa depan kita. Pada akhirnya, kekuatan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari kekayaan alam atau besarnya ekonomi, tetapi dari kemampuannya untuk tetap bersatu di saat tantanganmenerjang. Jika Indonesia mampu menjaga persatuan itu, Indonesia akan muncul sebagai salah satu pilar kekuatan baru dunia.

Achmad Herwandi

Bendahara Umum DPP Partai PRIMA

You Might Also Like

Bendahara Partai Prima: Ditengah Krisis Global, Indonesia Butuh Persatuan
Wamenhub Suntana Tinjau Pelabuhan Ciwandan, Pastikan Arus Mudik Lancar
Kemenhaj Rancang Modul Pantau Haji
Bukan Sekadar Lapar, Ini Kunci Puasa Sehat
Tips Menjalani Puasa , Agar Tetap Sehat dan Tidak Lemas
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Find Us on Socials

Berita Terkait

Setahun Andra Soni, Aktivis Antikorupsi Nilai Gubernur Banten Responsif dan Pro-Publik

2 bulan ago

Encop Sopia: Dapur MBG Banyak Membantu Masyarakat

3 bulan ago

Pembangunan Pandeglang: Antara Pertumbuhan dan Keadilan Sosial

3 bulan ago

Ekonomi Pandeglang: Potensi Besar, Kesejahteraan Masih Tertinggal

3 bulan ago

Damar BantenDamar Banten
© 2026 Damar Banten | PT. MEDIA DAMAR BANTEN Jalan Jakarta KM 5, Lingkungan Parung No. 7B Kota Serang Provinsi Banten
  • Iklan
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?