Mistisfisme Jawa Dalam Bimo Suci (Sebuah Perjumpaan Dengan Tuhan)

Menarik menyimak pertunjukan wayang yang diinisiasi oleh Paduka Yang Mulia Duta Besar Republik Indonesia untuk Jepang Heri Ahmadi-San, yang diselenggarakan di KBRI Tokyo, Jepang pada tanggal 15 Agustus 2021 dalam rangka menyambut Peringatan Kemerdekaan Indonesia.

Wayang yang mengambil lakon Dewa Ruci ini semakin elok karena disampaikan oleh Sang Dalang dalam bahasa Jepang dan suluk suluk dalam bahasa Kawi dan diiringi sinden berkebangsaan Jepang yang mengalir dan fasih dalam menyanyikan tembang tembang Jawa.

Wayang merupakan simbolisasi yang menerangkan eksistensi manusia dan hubungan antara yang natural dan supernatural. Hubungan manusia dengan semesta, antara makluk dan penciptanya, antara laki laki dan perempuan, tua dan muda, perhubungan penjuru mata angin, antara diri pribadi dan sesama, dan lain sebagainya.

Lakon Dewa Ruci menceritakan perjalanan spiritual seorang Brotoseno, ya Sang Bimo, ya Werkudara dalam mencari air suci yang diperintahkan oleh Sang Guru Durna. Dewa Ruci, atau Bimo dalam bentuknya yang kecil adalah gambaran sejati dari bersatunya diri pribadi dengan tuhannya, satu peristiwa manunggaling kawula lan gusti yang sesungguhnya semua itu ada dalam diri manusia sejati.

Brotosena atau Bima adalah pribadi yang tulus penuh cinta kasih dan lugu. Dialah satu satunya manusia sejati yang diperkenankan untuk mengadakan perjumpaan dengan tuhan. Dialah manusia pinilih karena ketulusan dan keluguanya dalam menjalani hidup.

Brotoseno memang seorang pribadi yang selalu ngoko, alias tidak pernah menggunakan bahasa lisan yang bertingkat tingkat sebagaimana seorang Ksatria lainya. Dia selalu berbicara lugas tanpa basa basi pada siapapun termasuk pada orang tua, maupun gurunya sekalipun.

Brotosena atau Bimo adalah pribadi yang memiliki kemuliaan karena dialah orang yang tempatkan unggah ungguh sejati dengan menganggap manusia itu setara. Dia tidak pernah pandang bulu pada siapapun. Citra dirinya adalah sebagai pribadi yang loyal, tulus dan penuh kasih sayang yang berada dalam tubuh kekarnya.

Brotoseno begitu percaya pada nasehat Sang Gurunya yang dia cintai, Sang Guru Durna yang bijaksana dan sakti mandraguna untuk mencari air suci. Tanpa pretensi apapun dia lalu mencarinya seperti arah yang ditunjukkan padanya ke Goa Kiskenda. Goa maut yang dihuni oleh dua raksasa sakti yang tak terkalahkan.

Benar saja, Brotosena ternyata begitu sampai di goa lalu bertemu dengan dua raksasa itu dan terjadilah pertarungan sengit dua lawan satu. Lalu tanpa dinyana akhirnya Brotosena ternyata menang. Dua raksasa itu ternyata adalah jelmaan Dewata. Lalu mereka hanya berpesan agar Brotosena kembali kepada Sang Guru untuk meminta petunjuk selanjutnya.

Bimo pulang ke Hastinapura, diantarkan oleh badai besar dan membuat kaget seluruh Istana. Semua orang mengira Brotosena telah mati ditelan dua raksasa itu.

Lalu dia bergegas menemui Sang Guru. Dia meminta pentunjuk selanjutnya. Lalu diperintahlah oleh Sang Guru agar dia mencari air suci itu ke dalam dasar samudra. Tanpa menunda dia langsung pergi dan bertemulah dia dengan Dewa Naga, penjaga samudra yang sangat sakti. Dihabisilah si Brotosena.

Dalam titik nadir hidup dan matinya itulah lalu Brotosena bertemu dengan Sang Dewa Ruci, yang sesungguhnya wadag kecil Brotosena itu sendiri. Sebuah pertemuan yang mengharukan, sebuah peristiwa penting yang tidak pernah dialami manusia lainya. Sebuah perjumpaan istimewa yang mengharukan dengan tuhan, kawula yang menyatu dengan penciptanya, manunggaling kawulo lan gusti. Dia bercakap cakap dengan dirinya sendiri.

Dalam peristiwa itu air suci itu telah ditemukan. Brotosena telah menemukan kesejatian dari sangkan paraning dumadi, tentang keterangan asal muasal dan tujuan akhir. Mengenal Tuhan dalam dirinya yang ditandai dengan bersatunya sukma Dewa Ruci dalam wadag Sang Brotoseno ya Bimasuci. Anggambuh mring Hyang Sukma Lan Momor Pamoring sawujud.

Bimosuci lalu kembali ke Istana Hastinapura menemui Sang Guru Durna. Pelukan hangat dari kebijaksanaan Sang Guru yang dianggap oleh kalayak akan menyesatkan dan mencelakakan Sang Murid itu tak tampak. Mereka berpelukan dalam kemuliaan.

Lalu seluruh berita menyebar. Kematian Brotosena yanh diharap harap oleh Kurawa ternyata tak menjadi kenyataan, dan lalu Dursasana dan saudara saudaranya berusaha untuk menghabisi Brotosena. Tapi berkah dan perlindungan Sang Hyang Dumadi telah menyelematkanya dan akhirnya kembalilah hidup seperti apa adanya. Mangayubagyo. Dirgahayu Republik Indonesia! Merdeka!

Jakarta, 15 Agustus 2021

Penulis : Suroto

BERITA TERKAIT

Apa pendapat anda tentang berita diatas

- Advertisement -spot_img

PALING SERING DIBACA

- Advertisement -spot_img

Terkini