Nusantara Bangkit

Dalam matematika, “Konstanta” atau “Tetapan” adalah suatu nilai tetap, Konstanta digunakan dalam berbagai disiplin ilmu sains berlawanan dengan “Variabel” yang berubah-ubah.

Definisi tentang “Variabel” diantaranya berarti
berubah-ubah, tidak tetap, deklarasi sesuatu yang memiliki variasi nilai berbeda-beda dalam bahasa pemrograman disebut juga simbol yang mewakili nilai tertentu, variabel yang dikenal di sub program disebut variabel lokal, sedang yang di kenal secara umum/utuh dalam satu program disebut “Variabel Global”.

“Sejarah” atau kejadian nyata di masa lalu adalah “Pasti” tidak “Variable” hanya pencatatan nya yang terpengaruh kepentingan “Subjektif” yang berkuasa yang menjadikan ini menjadi tidak pasti bahkan “Ambigu”, ini yang harus di luruskan.

Konstanta atau ketetapan tidak bisa diubah, Inisialisasi nilai hanya dilakukan sekali di awal, setelahnya tidak bisa diubah nilainya, Beberapa konstanta diberi nama menurut nama penemunya Contoh konstanta :

c (kecepatan cahaya) = 299.792.458 meter per detik

h (konstanta Planck) = 6.626 x 10-34 Joule detik

G (konstanta gravitasi) = 6.6742 x 10-11 m3 s-2 kg-1

Konstanta Hubble = 70 (km/s)/Mpc

π (pi), konstanta rasio lingkaran terhadap diameternya, nilainya mendekati 3,141592653589793238462643…
e, nilainya mendekati 2,718281828459045235360287…

φ (rasio emas), nilainya mendekati 1,618033988749894848204586

Jadi “Konstanta” adalah “Ketetapan” yang nilainya tidak bisa diubah, Inisialisasi nilai hanya dilakukan sekali di awal, setelahnya tidak bisa diubah nilainya.

Juga angka tahun dalam pencatatan kejadian nyata “Sejarah” saat kejadian adalah harus benar pada tahun tersebut tidak “Variable” yaitu “Kepastian”, Kapan Siapa Dimana kejadian sejarah itu terjadi.

Jadi sejarah adalah logika, bukan “Sejarah” jika tidak “Logis” yang harus memenuhi 3 syarat dalam kriteria pencatatan sejarah :
Kapan
Siapa
Dimana

ini hal penting dalam upaya pengembalian pencatatan benar sejarah kita, kemudian tidak hanya ber “Eforia” sibuk dalam wacana perdebatan, langkah benar adalah “Explorasi” meneliti, diskusi dan publikasi.

Tentang situs situs di Nusantara, apakah benar berdasar ajaran dari india…?

Kapan dan siapa yang membawa ke sini…?

Jika penetapan angka tahun dalam pencatatan sejarah adalah “Ambigu” atau dapat terbantahkan “Kebenarannya” maka perlu di koreksi dan di revisi… inilah yang terjadi pada pencatatan sejarah negri kita…

Penemuan pada akhir abad ke-20 memperlihatkan bahwa “Konstanta Kosmologi” diperlukan untuk menerangkan keberadaan “Energi gelap”, telaah tentang ini membuka tabir apa itu “Mukso” dan “Topo” di Borobudur.

Konstanta kosmologi adalah kerapatan energi luar angkasa atau energi vakum yang muncul dalam persamaan medan dalam Relativitas Umum, Konstanta ini diperkenalkan Einstein dalam teori “Relativitas Umum” agar alam semesta tetap statik.

Seorang Einstein pun masih tetap mengatakan “Relative” dalam teorinya, Bagaimana Casparis di anggap benar mengatakan “Borobudur” di bangun abad 8 Masehi…? sedang dalam desertasinya angka tersebut di tulis “Perkiraan”.

Einstein kemudian membuang atau tidak menggunakan konstanta kosmologi ketika hasil pengamatan memperlihatkan bahwa alam semesta memuai atau bergerak mengembang.

“This is the biggest mistake in my life”

Einstein yang pernah memodifikasi sifat alami teori relativitas umum merasa telah ‘merusak’ teorinya sendiri, Ia sangat menyesali sampai menyatakan bahwa penambahan konstanta kosmologi adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.

Wajar, sebagai manusia biasa Eintein tidak luput dari kesalahan, disini kita belajar bahwa kesalahan adalah sifat yang sangat manusiawi, bisa terjadi pada siapa saja termasuk ilmuwan sekaliber Einstein.

Begitu juga dalam perhitungan tahun dalam pencatatan tahun sejarah di Nusantara “Konstanta” atau ketetapan penghitungan tahun sejarah pada prasasti ber angka tahun “Saka” yang selama ini dihitung “Harus” di mulai pada tahun 78 Masehi.

Adalah sudah usang, harus di buang atau tidak di pergunakan lagi, karena terbukti bahwa ada banyak fakta sejarah yang terjadi sebelum tahun itu di Nusantara, dan menghitung awal tahun saka di prasasti tidak lagi di mulai 78 Masehi, ini penyebab sejarah kita hilang sebelum tahun itu.

“Kesalahan” atau dengan bahasa lain nya adalah “Ke khilafan” bisa terjadi pada siapa saja termasuk ilmuwan sekaliber Einstein, begitu juga dengan para pencatat sejarah di negri ini…bahwa tahun 78 Masehi adalah tahun bangsa “Saka” nenek moyang bangsa Nusantara yang di tahun itu menaklukan Raja Salivahana india selatan.

Bukan menjadi awal tahun Saka untuk menghitung angka tahun di “Prasasti” penghitungan awal tahun Saka ini, menyebabkan sejarah kita hilang atau dihilangkan sebelum tahun 78 Masehi.

“Historiografi” , sejarawan bekerja dalam pembentukan opini masyarakat, sejarawan telah menghasilkan sekumpulan buku sejarah,kemudian pembaca selalu terjebak pada “Status Quo”.

Tidak ada pemaknaan abadi dalam sejarah, Sejarah dalam dekade waktu tertentu bisa di anggap “Sakral” akan runtuh oleh perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan selanjutnya.

“Revicionist History” adalah para pekerja yang berada dalam proses alami sejarah itu sendiri, menyempurnakan “Distorsi” subjektif penulis sejarah terdahulu yang dominan dari penjajah yang ingin merampok Nusantara.

Sejarah akan memutar siklus alami membuktikan fakta nyata kebenaran masa lalu nya, tidak ada yang dapat merubah fakta nyata kejadian masa lalu, Hanya dengan merubah catatan apa yang terjadi sebenar nya….

Arti literasi kata “Konstanta” adalah “Ketetapan” , Konstan atau Tetap tidak variabel berubah.

“Sejarah” secara alami berputar menuju titik di mana pernah di laluinya dan kejayaan itu pernah terjadi dan akan terulang lagi dengan ketetapan atau konstanta yang valid….maka kini sudah tiba waktu nya “Konstanta Sumuruping Geni” akan kembali terjadi di Nusantara ini…

“Konstanta Sumuruping Geni” adalah ketetapan kembalinya cahaya terang dari api yang pernah menyala menerangi dunia dan sumber nyala api itu pernah terjadi dan bersumber di tanah ini Nusantara.

Generasi bangsa ini akan mengerti siapa sebenarnya nenek moyang nya….bahwa leluhur nya bukan “Primitive” tidak menganut Animisme Dinamisme juga tidak dari india.

Palsafah ajaran leluhur kita adalah “Dharma”/Dhamma/Dhamo terekam pada literasi kata Kųsãlädhãrmãbæjănā dan “Vinayadharmakyacita” di figura dasar relief Borobudur yang di tutup.

“Ajaran” itu hingga kini tersimpan sempurna di Bali dan tergambar di situs Borobudur itulah “Ajaran” yang mendasari lahirnya Hindu,Buddha dan Jaina dibawa oleh kaum “Çaka/Saka/Çakyā/Aryā leluhur kita keluar Nusantara Indonesia, mewarnai 3/4 muka bumi diantaranya tanah india.

Penulis : Santo Saba

BERITA TERKAIT

Apa pendapat anda tentang berita diatas

- Advertisement -spot_img

PALING SERING DIBACA

- Advertisement -spot_img

Terkini