Damar Banten – Pemerintah menyiapkan sejumlah strategi untuk mengatasi dampak kenaikan harga plastik yang menekan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya sektor makanan dan minuman.
Menteri UMKM Maman Abdurrahman menyatakan langkah jangka pendek dilakukan dengan membuka alternatif pasokan bahan baku dari wilayah yang lebih stabil seperti Afrika, India, dan Amerika, guna menjaga ketersediaan di dalam negeri.
“Proses administrasi sedang disiapkan,” ujarnya.
Selain itu, pemerintah juga mendorong strategi jangka panjang melalui pengembangan bahan baku alternatif berbasis sumber daya lokal, seperti bambu, rumput laut, dan singkong sebagai bioplastik.
“Ini bukan hanya solusi krisis pasokan, tetapi juga peluang membangun industri hijau berbasis potensi lokal,” tambahnya sebagaimana dilansir laman umkm.go.id
Pemerintah turut menyiapkan kebijakan pendukung, antara lain subsidi penggunaan bioplastik, penguatan rumah kemasan bersama, serta pelatihan dan pendampingan bagi pelaku UMKM agar lebih adaptif terhadap perubahan.
Langkah ini diambil menyusul terganggunya pasokan bahan baku plastik yaitu nafta akibat konflik geopolitik global yang berdampak pada kenaikan harga dan penurunan kapasitas produksi.
Indonesia sendiri masih bergantung pada impor bahan baku plastik hingga 55 persen. Di sisi lain, industri kemasan plastik dalam negeri mendominasi pasar hingga 67,61 persen pada 2025, dengan sektor makanan sebagai kontributor terbesar.
Kondisi tersebut membuat pelaku UMKM semakin terdampak, dengan laporan penurunan omzet hingga 50 persen akibat kenaikan harga plastik di tingkat eceran.
Penulis : Mardiah

