By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Damar BantenDamar BantenDamar Banten
  • Beranda
  • Utama Damar Banten
  • Seputar Banten
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Wisata-Budaya
  • Olahraga
  • opini
  • Figur
  • Video
Reading: “Whiner or Winner”
Share
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Damar BantenDamar Banten
  • Beranda
  • Utama
  • Seputar Banten
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Wisata-Budaya
  • Olahraga
  • opini
  • Figur
  • Seputar Banten
  • Komunitas
  • Utama
  • Ekonomi – Bisnis
  • Wisata dan Budaya
  • Olah Raga
  • Figur
  • Sorotan
  • Contact
  • Blog
  • Complaint
  • Advertise
  • Advertise
© 2026 Damar Banten.
opini

“Whiner or Winner”

Last updated: Juli 17, 2021 12:26 pm
4 tahun ago
Share
3 Min Read
SHARE

Mungkin ada di antara kita yang tidak mengenal Jean-Dominique Bauby. Ia pemimpin redaksi majalah Perancis ‘Elle’. Tahun 1996 ia meninggal pada usia 45 tahun setelah menyelesaikan memoar yang “ditulisnya” secara istimewa dan diberinya judul Le Scaphandre et le Papillon (The Bubble and the Butterfly), yang mengisahkan tentang sang pemimpin redaksi itu.

Pada 1995 Jean terkena stroke yang menyebabkan seluruh tubuhnya lumpuh. Ia mengalami apa yang disebut ‘locked-in syndrome’, kelumpuhan total yang ia sebut ‘seperti pikiran di dalam botol’. Memang Jean masih bisa berpikir jernih tetapi sama sekali tidak bisa berbicara maupun bergerak. Satu-satunya otot yang masih dapat diperintahnya adalah kelopak mata kiri. Jadi itulah caranya berkomunikasi dengan para perawatnya, dokter rumah sakit, keluarga dan teman-temannya.

Mereka menunjukkan huruf demi huruf dan si Jean akan berkedip bila huruf yang ditunjukkan adalah yang dipilihnya. ‘Bukan main’, kata setiap orang yang membaca kisahnya.

Buat kita, kegiatan menulis mungkin sepele dan menjadi hal yang biasa. Namun, kalau kita disuruh menulis dengan cara si Jean, barangkali kita harus menangis dulu berhari-hari.

Betapa mengagumkan tekad dan semangat hidup si Jean untuk tetap menulis dan membagikan kisah hidupnya yang begitu luar biasa. Ia meninggal 3 hari setelah bukunya diterbitkan.

Nah, berapa pun problem dan stress hidup kita, tiada artinya jika dibandingkan dengan problem si Jean.

Dalam memoarnya ia menulis: ‘Aku akan jadi orang paling bahagia di dunia ini, jika aku bisa menelan ludahku saja’. Bisa dibayangkan, menelan ludah pun ia tak mampu, sementara banyak orang yang masih bisa makan bakmi dsb, mengeluh setiap hari, sepanjang tahun.

Apa lagi yang dikerjakan Jean dalam kelumpuhan totalnya selain menulis buku ? Ia mendirikan asosiasi penderita ‘locked-in syndrome’ untuk membantu keluarga penderita. Ia juga menjadi ‘bintang film’ sebagai pemeran utama dalam film yang dibuat TV Perancis yang menceritakan kisah Jean. Ia merencanakan untuk menulis, menulis dan menulis buku selanjutnya. Pokoknya ia hidup to celebrate life, to do something good for others’. (rayakan hidup ini, dengan melakukan kebaikan bagi orang lain)

Adakah arti kisah nyata si Jean buat kita ? Betapa pun dahsyat masalah kita saat ini, stress berat, konflik batin dengan diri sendiri maupun orang lain, tak bahagia dengan pasangan, kebutuhan hidup tak terpenuhi, baru saja di-PHK dst, saya yakin kita masih bisa menelan ludah bukan ?

Mari, kita jangan terus menjadi whiner (pengeluh abadi), melainkan jadi winner (pemenang) atas kehidupan ini.

Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdo’a. Mengucap syukurlah dalam segala hal.

Ketika aku tersenyum bukan berarti hidupku sempurna.
Tapi mensyukuri nikmat yg diberikan Allah SWT hari ini adalah hal terindah atas karuniaNYA.

Terus tebar kebaikan sekecil apapun walau menyingkirkan sebiji paku yg ada di jalan

Sebaik baiknya manusia adalah yg bermanfaat kepada sesama dan semulya mulyanya manusia adalah yg paling bertaqwa kepada Robb nya

By; Dr. Mardani Ali Sera

You Might Also Like

Pembangunan Pandeglang: Antara Pertumbuhan dan Keadilan Sosial
Ekonomi Pandeglang: Potensi Besar, Kesejahteraan Masih Tertinggal
Teori sosial barat dan perubahan budaya masyarakat banten
Rasionalitas Pilihan Ekonomi Masyarakat Kota Serang di Tengah Perubahan Sosial: Perspektif Adam Smith
Kebaikan Bersama dalam Pilihan Ekonomi Masyarakat Kota Serang: Perspektif Aristoteles
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Find Us on Socials

Berita Terkait

Dampak media sosial terhadap pola pikir generasi muda

3 hari ago

Potensi Pariwisata dan Tantangan Pembangunan, Menata Ulang Strategi Pembangunan Berkelanjutan di Pandeglang

3 hari ago

Menghirup Racun di Kota Global: Polusi Jakarta dan Ironi Pembangunan yang Membunuh

3 hari ago

Hegemoni Fiskal dan Tergerusnya Keadilan: Bedah Kenaikan PPN 12% dalam Perspektif Konflik Kelas

3 hari ago

Damar BantenDamar Banten
© 2026 Damar Banten | PT. MEDIA DAMAR BANTEN Jalan Jakarta KM 5, Lingkungan Parung No. 7B Kota Serang Provinsi Banten
  • Iklan
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?