By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Damar BantenDamar BantenDamar Banten
  • Beranda
  • Utama Damar Banten
  • Seputar Banten
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Wisata-Budaya
  • Olahraga
  • opini
  • Figur
  • Video
Reading: Kisah Getir Jelang Munggahan
Share
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Damar BantenDamar Banten
  • Beranda
  • Utama
  • Seputar Banten
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Wisata-Budaya
  • Olahraga
  • opini
  • Figur
  • Seputar Banten
  • Komunitas
  • Utama
  • Ekonomi – Bisnis
  • Wisata dan Budaya
  • Olah Raga
  • Figur
  • Sorotan
  • Contact
  • Blog
  • Complaint
  • Advertise
  • Advertise
© 2025 Damar Banten.
Wisata

Kisah Getir Jelang Munggahan

Last updated: April 13, 2021 8:25 am
4 tahun ago
Share
4 Min Read
SHARE

Damar Banten —Tsunami yang melanda Banten bagian arat daya,  pada 22 Desember 2018,  masih menyisakan trauma bagi   wisatawan dan  masyarakat. Warga Desa Sumber Jaya, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang,  Mis (35), mengaku masih terbayang ganasnya tsunami pada saat itu.

“Sampai sekarang saya masih trauma,” ujarnya, merinding.

Pria yang sehari-hari bekerja sebagai pengemudi perahu wisata itu  kehilangan perahu yang menjadi andalan matapencahariannya. Sebelum tsunami menerpa desanya, ia memiliki perahu yang digunakan untuk jasa transportasi bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke Pulau Oar atau memancing.  Hasilnya lumayan. Ia sering membawa pulang  uang tak kurang dari Rp.1 juta/hari. Namun, sekarang,  dia harus mengoperasikan perahu milik orang lain.

Setelah kejadian tsunami itu,  katanya,  desanya benar-benar sepi wisatawan. Itu pun masih ditimpa  pandemi Covid. Di hari libur saja, kalau beruntung,  bisa dapat tarikan mengantar wisatawan, tapi hasilnya harus dibagi dua dengan pemilik perahu. Tak urung, penghasilannya pun menurun drastis.

“Dulu mah sebelum tsunami saya bawa orang ke pulau itu (Pulau Oar, red) pakai perahu sendiri, bisa dapet Rp.1 juta perhari. Kalau  sekarang mah, ya,  paling Rp.500 ribu. Itupunsebagian  harus disetor ke bos,” ujarnya kepada Damarbanten.com, Sabtu (10-04/ 2021)

Hal serupa juga dialami Pak Matang. Dituturkannya, sebelum tsunami, dengan  satu perahu dan  dua kapal besar yang disewakan untuk mengantar pengunjung ke pulau-pulau tujuan wisata, diantaranya Pulau Oar, Pulau Peucang, dan Pulau Handeuleum, penghasilannya cukup besar. Paket biaya carter perahu 2 hari dan 1 malam sebesar Rp 3.500.000, dengan catatan biaya penginapan ditanggung tamu penumpang.  Sedangkan, kalau cuma perjalanan menggunakan kapal besar berkapasitas 40 orang biayanya cuma Rp.2,5 juta dalam sehari, dan bila menggunakan perahu kecil, misalnya ke Pulao Oar hanya berbiaya sekitar Rp.300 ribu. Harga bisa bertambah bila tujuan yang hendak dicapai lebih jauh dari jarak menuju Pulau Oar.

Kondisi itu sangat   jauh bila dibandingkan dengan penghasilannya di masa sekarang, di masa pandemi Covid-19. Pendapatan berkurang drastis, dan tidak menentu.

“Sekarang kadang-kadang saja ada yang naik kapal/perahu. Padahal sekarang lagi munggahan yang biasanya ramai wisatawan bertamasya,’ jelasnya.

Tidak Terawat

Pulau Oar dulunya dikelola dengan baik sehingga ramai dikunjungi wisatawan lokal dan luar daerah. Tapi sekarang, kondisinya menyedihkan karena tak lagi ada pihak yang mengelolanya.

“Dulu yang paling banyak dikunjungi itu kebanyakan Pulau Oar Dulu mah rapih ada yang mengelola, ada gajebo juga, tapi sekarang banyak sampah,” kata Lukman, saat ditemui Damarbanten di Pulau Oar, Sabtu  (10/04/2021). 

Tiadanya fasilitas bagi wisatawan dan sampah yang berserakan, tempat wisata yang asri dan mempesona itu tak lagi menarik wisatawan berkunjung.  Akibatnya, wisatawan semakin enggan berkunjung kembali.

“ kondisi Pulau Oar sekarang acak-acakan, dan banyak sampah bekas bagan yang berserajkan. Jadi orang juga pikir-pikir lagi buat kesini”,  ungkapnya.

Lebih lanjut, Lukman berharap, ada pihak yang bisa mengelola kembali Pulau Oar agar kehidupan kepariwisataan dan masyarakat cepat pulih.

“Sebetulnya bagus kalau dikembangkan lagi, misalnya,  oleh pemerintah desa atau karang taruna,” harapnya.. 

Penulis: Iqbal, Hamidah, Siti Mahfudzoh

You Might Also Like

Libur Lebaran 2024, Puluhan Ribu Wisatawan Kunjungi Pantai Anyer-Cinangka
Kunjungan Wisatawan ke Anyer-Cinangka Alami Peningkatan Capai 40 Persen
Kunjungan Wisatawan ke Pantai Anyer-Cinangka Meningkat 30 Persen
Viral Jembatan Pelangi, Begini Ceritanya
Menparekraf RI Kunjungi Pandeglang dan Lebak, Ditpamobvit Polda Banten Gelar PAM VIP
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Find Us on Socials

Berita Terkait

Wisata Religi Pulau Cangkir

4 tahun ago

Kunjungan Wisatawan ke Banten Diprediksi Melonjak

4 tahun ago

Pariwisata Banten: Optimisme Di Tengah Keterpurukan

4 tahun ago

Indahnya Perjalanan Ke Salakanegara

4 tahun ago

Damar BantenDamar Banten
© 2025 Damar Banten | PT. MEDIA DAMAR BANTEN Jalan Jakarta KM 5, Lingkungan Parung No. 7B Kota Serang Provinsi Banten
  • Iklan
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?