Damar Banten – Wakil Gubernur Banten Achmad Dimyati Natakusumah menghadiri kegiatan bedah buku berjudul Baduy: Masyarakat 1001 Tabu di Aula Horison TC UPI Serang, Kota Serang, Kamis (12/2/2026). Dalam kesempatan tersebut, Dimyati mengapresiasi terselenggaranya forum akademik yang menghadirkan para pakar sebagai pembedah buku.
Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan itu di antaranya Prof. Dr. Retty Isnendes dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Ade Jaya Suryani dari UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, serta penulis buku Uday Suhada.
Menurut Dimyati, buku tersebut memiliki kualitas yang baik dari sisi penulisan, kelengkapan referensi, hingga kajian empiriknya.
“Bukunya bagus, dari sisi penulisannya bagus, pustakanya lengkap, dan hasil kajian empiriknya juga kuat,” ujar Dimyati.
Ia menilai buku tersebut dapat menjadi referensi penting bagi kalangan akademisi dan mahasiswa, terutama dalam penyusunan karya ilmiah seperti skripsi, tesis, dan disertasi. Selain itu, buku tersebut juga menjadi dokumentasi literasi tentang masyarakat adat Baduy yang selama ini dikenal konsisten menjaga adat istiadat dan kelestarian alam.
“Baduy ini hanya ada di Banten, bahkan di dunia hanya ada di Banten. Kita harus banyak belajar dari masyarakat Baduy,” katanya.
Dimyati juga mendorong agar buku tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris agar dapat diakses masyarakat internasional sekaligus mendukung promosi budaya dan pariwisata Banten.
“Saya berharap buku ini diterjemahkan ke bahasa Inggris supaya orang luar bisa membaca dan memahami Baduy. Ini juga bisa mendorong kunjungan wisatawan,” tambahnya.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Keuangan UPI, Prof. Dr. Rudi Susilana, mengatakan kegiatan bedah buku merupakan bagian dari komitmen UPI untuk membumikan kampus di tengah masyarakat Banten.
“UPI hadir di Banten harus menyatu dan membumi. Ini bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan dan literasi masyarakat,” ujarnya.

Ia menyatakan pihaknya siap memfasilitasi penerjemahan buku tersebut ke dalam bahasa Inggris, mengingat tim editor memiliki kompetensi di bidang linguistik.
“Kami akan memfasilitasi agar buku ini diterjemahkan dan diterbitkan dalam edisi bahasa Inggris. Harapannya bukan hanya membumi, tetapi juga mendunia,” katanya.
Penulis buku, Uday Suhada, menuturkan bedah buku menghadirkan para akademisi untuk memastikan objektivitas dan kualitas ilmiah karyanya.

“Saya ingin subjektivitas saya dieliminir melalui kajian para pakar yang memiliki kompetensi dan pengalaman riset tentang Baduy,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya bersama meningkatkan budaya literasi di Banten, sekaligus memperkuat narasi kedaerahan melalui peran aktif perguruan tinggi.
Penulis : Owi

