Damar Banten – Ikatan Persaudaraan Keluarga Orang Hilang (IKOHI) akan menggelar peringatan Hari Lahir Wiji Thukul ke-63 di Jakarta, Rabu (26/8/2026). Peringatan tersebut akan diisi dengan berbagai kegiatan, mulai dari peluncuran buku, pemutaran film, pembacaan puisi hingga konser musik.
Rangkaian kegiatan akan digelar di dua lokasi, yakni Rumah Baca Kalibata, Jakarta Selatan, dan Gramedia Matraman, Jakarta Timur. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mengenang Wiji Thukul sekaligus merawat ingatan terhadap perjuangan dan karya-karyanya.
Peluncuran Buku dan Pemutaran Film
Rangkaian pertama akan berlangsung di Rumah Baca Kalibata mulai pukul 13.00 hingga 19.00 WIB. Kegiatan akan diisi dengan peluncuran buku Indonesia Belum Merdeka dan pemutaran film Nyanyian Akar Rumput.
Selain mengenang sosok Wiji Thukul, kegiatan tersebut juga akan menjadi ruang diskusi mengenai perjalanan perjuangan Wiji Thukul serta persoalan penghilangan paksa aktivis 1997-1998 yang hingga kini belum terselesaikan.
Wiji Thukul dikenal sebagai penyair dan aktivis yang melalui karya-karyanya banyak menyuarakan persoalan sosial, ketidakadilan, serta perjuangan masyarakat. Ia menjadi salah satu aktivis yang diculik pada masa Orde Baru dan hingga kini belum diketahui keberadaannya.
Wahyu Susilo juga dijadwalkan turut hadir dalam rangkaian kegiatan tersebut sebagai narasumber. Kehadirannya diharapkan menambah perspektif dalam pembahasan mengenai Wiji Thukul, isu penghilangan paksa, serta upaya merawat ingatan publik terhadap para aktivis yang hingga kini belum diketahui keberadaannya.

Pembacaan Puisi dan Konser Musik
Pada malam harinya, rangkaian peringatan akan dilanjutkan di lantai dasar Gramedia Matraman mulai pukul 19.00 hingga 22.00 WIB.
Kegiatan malam tersebut akan diisi dengan pembacaan puisi dan konser musik progresif. Sejumlah musisi dan seniman dijadwalkan tampil, di antaranya Fajar Merah, Usman Hamid, Kantusfirmus, Hardingga, Pandai Api, Sokras, dan Sahat Berlian Tarigan.
Fajar Merah, putra Wiji Thukul, turut dijadwalkan hadir dalam rangkaian kegiatan tersebut. Melalui musik, Fajar selama ini turut memperkenalkan dan menjaga ingatan terhadap karya serta perjuangan ayahnya.
Peringatan HUT Wiji Thukul ke-63 ini diharapkan menjadi ruang pertemuan bagi keluarga, sahabat, seniman, aktivis, dan masyarakat yang memiliki perhatian terhadap karya Wiji Thukul serta isu orang hilang.
Melalui peluncuran buku, film, puisi, dan musik, IKOHI berupaya menjaga ingatan publik terhadap Wiji Thukul dan para aktivis yang hingga kini belum diketahui keberadaannya. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa perjuangan untuk mengungkap kasus penghilangan paksa aktivis 1997-1998 masih terus berlangsung.
Penulis : Ayu Lestari

