Damar Banten – Keluarga besar Bani KH. Tb. M. Asyik Bendung menggelar pertemuan perdana silaturahmi di Pondok Pesantren Al Muawanah, Kasunyatan, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Senin malam (31/8/2026).
Pertemuan yang diikuti sekitar 22 anggota keluarga tersebut menjadi momentum untuk mempererat tali persaudaraan sekaligus menjaga sejarah perjuangan KH. Tb. M. Asyik atau Ki Asyik, salah satu ulama pejuang Banten dalam peristiwa Geger Cilegon 1888.
Panitia sekaligus founder grup WhatsApp Bani Asyik, Ratu Nizma, mengatakan kegiatan tersebut digelar agar hubungan antaranggota keluarga yang telah tersebar di berbagai daerah, organisasi, lembaga pendidikan, serta latar belakang berbeda tetap terjaga.
“Walaupun berbeda ormas atau pilihan madzhab dan politik, tapi semuanya tetap sedulur. Namanya juga Bani Asyik, jadi orangnya harus asik-asik,” ujar Nizma.
Tuan rumah sekaligus pimpinan Pondok Pesantren Al Muawanah, KH. Tb. Syahroni, mengatakan silaturahmi tersebut juga menjadi langkah awal untuk mendokumentasikan sejarah dan garis keturunan Bani Asyik Bendung.
Menurutnya, keluarga besar Bani Asyik berencana menyusun buku silsilah yang memuat data keturunan keluarga. Upaya tersebut dinilai penting agar generasi muda tetap mengenal sejarah perjuangan para leluhur.
“Kami juga akan membuat Buku Silsilah KB Bani Asyik Bendung. Supaya tidak padam obor sejarah dan generasi berikutnya tetap mengetahui perjuangan para leluhur,” jelasnya.
Dalam sejarah yang disampaikan pada pertemuan tersebut, KH. Tb. M. Asyik dikenal sebagai ulama, guru tarekat dan salah satu pemimpin perjuangan rakyat Banten dalam peristiwa Geger Cilegon 1888. Peristiwa tersebut menjadi salah satu catatan penting sejarah perlawanan masyarakat Banten terhadap kolonialisme Belanda.
Sejumlah keluarga Bani Asyik turut hadir dalam pertemuan tersebut, di antaranya Hj. Encop Sophia, Hj. Eri Rahmawati, serta Rina dan Sahroni. Sementara Hj. Ima berhalangan hadir karena kondisi kesehatan.
Rina mengatakan pertemuan perdana tersebut diharapkan dapat menyambung kembali tali silaturahmi antar keturunan KH. Tb. M. Asyik yang kini telah memasuki generasi kelima hingga keenam.
“Alhamdulillah pertemuan perdana Bani Asyik terlaksana dengan baik. Mudah-mudahan pertemuan ini bisa menyambung kembali tali silaturahmi dan mengingatkan kita akan jasa serta perjuangan para pendahulu,” ujarnya.
Sementara itu, Hj. Encop Sophia mengingatkan pentingnya menjaga ingatan sejarah dan jasa para ulama.
“Jas Merah, jangan melupakan sejarah, dan Jas Hijau, jangan menghilangkan jasa para ulama. Kalau bukan sekarang kapan lagi, kalau bukan kita siapa lagi,” katanya.
Ia berharap kegiatan silaturahmi dapat dilaksanakan secara rutin setiap bulan dan dilengkapi dengan pengajian serta pengenalan sejarah kepada generasi muda.
Pertemuan berlangsung dalam suasana kekeluargaan hingga malam hari dan ditutup dengan makan bersama, ramah tamah serta pesta durian.
Editor : Owi

