Jangan Alergi Dengan Bisnis Kecil, Jangan pula Alergi Uang Recehan

Selama hampir tiga tahun saya mengelola usaha kecil-kecilan jualan jus dan roti bakar di pinggir jalan, baru kali ini saya berkesempatan belajar pengembangan bisnis UMKM langsung dengan mentor lewat seminar bisnis yang digelar Pegadaian di Resto Situ Gintung, Ciputat, Tangsel, Senin (18/9). Itupun karena seminarnya gratis bagi pelaku UMKM hehehe…. Dan ternyata banyak hal yang saya dapat. Memang, tidak semuanya hal baru, tapi lewat sinau bisnis seperti ini kita bisa me-refresh pemahaman kita seputar bisnis UMKM sekaligus memacu semangat untuk tidak gampang menyerah dalam mengelola sebuah usaha. Nah, sambil menunggu kereta jalan di Stasiun Tanah Abang sepulang kerja, saya ingin sedikit berbagi wawasan mengenai seluk beluk mengelola UMKM yang saya dapatkan dari sang mentor, Cak Isdiyanto yang asli Gresik, Jawa Timur.

Banyak hal yang disampaikan dalam seminar yang diikuti ratusan pelaku UMKM di wilayah Tangsel ini. Saya ingin berbagi sedikit saja dari apa yang saya tangkap.

Kerap muncul pertanyaan bagaimana sih agar kita bisa sukses menjalankan bisnis? Pertanyaan seperti itu juga kerap menghampiri saya. Bahkan ada yang bilang, ajari saya bikin usaha padahal saya sendiri masih amatiran karena memang baru merintis. hehe… Nah, Cak Is memberikan kiat-kiatnya. Salah satunya yaitu kita harus banyak bergaul dengan orang-orang baik. Dengan bertemu orang-orang baik, sangat mungkin orang tersebut bisa menjadi partner bisnis kita yang menguntungkan. Termasuk orang baik itu adalah karyawan kita. Kebayang gak sih kalau karyawan kita bukan orang baik? Dijamin hancur lebur usaha kita. Bahkan, sangat mungkin ketika kita bertemu orang baik, orang tersebut bisa diajak kerja sama dengan menawarkan modal usaha dan kita yang menjalankannya. Asyik bukan? Dan yang seperti itu sangat mungkin.
“Orang-orang baik, berkumpul dengan kominitas baik maka akan menciptakan hal-hal baik. Kalau ketemu orang-orang baik akan ketemu ide-ide baik. Nah, dari situ kalau ada masalah dalam bisnis bisa ditemukan solusinya bersama. Dengan bertemu orang baik kita juga bisa membangun bisnis berjejaring,” tutur Cak Is yang kini memiliki sejumlah bisnis, salah satunya usaha bakso Malang di berbagai titik di Jabodetabek.

Nah, cukupkah hanya dengan bertemu orang baik? Tentu tidak..! Masih banyak hal lain yang harus dipikirkan dalam mengelola bisnis. Apa itu? Pemasaran atau marketing. Iya, pemasaran atau cara menjual agar dagangan kita sampai ke konsumen. “Masalah dasar pelaku UMKM yaitu lemah dalam memperoleh pasar dan memperbesar pasar,” urainya.

Di Indonesia, kata Cak Is, umumnya pelaku bisnis masih lemah dalam hal pemasaran. Hal yang sering dikedepankan adalah produksinya tapi lemah dalam pemasarannya. Berbeda dengan di Singapura yang sangat fokus pada pemasaran. Bahkan, kini banyak produk Indonesia tapi yang menjual Singapura. Ironisnya konsumennya justru banyak orang Indonesia. Misalnya cokelat. Kini, seiring perkembangan teknologi, berbagai cara bisa dilakukan dalam memasarkan produk kita. Salah satunya ya lewat media sosial. Tentu masih banyak hal yang perlu diperhatikan terkait dengan pemasaran ini. Mulai dari packaging produk dan lainnya.

Selanjutnya apa yang sering dihadapi pelaku usaha, baik yang pemula maupun yang ingin mengembangkan bisnis? Permodalan. Ya, banyak orang ingin berusaha tapi terbentur modal. Nah, bagaimana solusinya? buanyak. hehehe… sotoy…. Ya, banyak memang. Kita bisa pinjam ke orang-orang terdekat kita. Bisa pula bisnis patungan dengan teman, atau pinjam permodalan di bank kalau mau. Pilihan lain, kata Cak Is, Pegadaian bisa jadi solusinya. Hehehe.. sedikit promo soalnya seminarnya yang bikin Pegadaian dan gratis. hehehe…

Apa selanjutnya kendala dalam berbisnis? Ini nih, lemah dalam bidang organisasi dan manajemen usaha, termasuk manajemen sumber daya manusia (SDM). Banyak orang bisa mulai membuka usaha tapi karena manajemen lemah jadinya bangkrut. Disinilah perlunya mempelajari seluk beluk berbisnis. Salah satunya ya lewat seminar seperti ini.

Hal penting lainnya dalam menjalankan UMKM, ujar Cak Is, sebaiknya kita tidak mengambil marjin keuntungan terlalu banyak. Jualan makanan atau minuman, misalnya, kadang kita berkeinginan untuk untung besar dari usaha kita sehingga kita menjual dagangan dengan harga tinggi karena berharap untung berlipat, tapi kita tidak sadar bahwa kita tidak sendirian berjualan makanan atau minuman. Banyak kompetitor lainnya. Jika ini yang terjadi jangan harap untung berlipat, bisa jadi kita malah buntung karena ditinggal kabur pelanggan. Jangan lupa, konsumen itu membandingkan baik cita rasa maupun harga. “Jangan ambil keuntungan banyak, tapi ambilah keuntungan sedikit yang banyak,” tuturnya.

Nah, apa maksudnya keuntungan sedikit yang banyak itu? Cak Is menerangan bahwa keuntungan sedikit yang banyak itu bisa berasal dari berbagai item barang yang kita jual, untung sedikit-sedikit tapi akhirnya jadi banyak. Bisa juga dengan mengambil keuntungan yang sedikit dari per item yang kita jual sehingga dagangan menjadi laris karena konsumen senang yang pada akhirnya dengan banyaknya barang yang terjual keuntungan menjadi berlipat. Atau bisa juga, misalnya, dengan marjin keuntungan yang tipis tapi kita punya cabang usaha serupa yang banyak, misalnya kedai jus atau bakso dengan branding serupa di beberapa titik, sehingga ketika margin keuntungan diakumulasikan dari berbagai titik menjadi satu keuntungan yang banyak. Jadi sedikit-sedikit tapi banyak.

“Usaha kecil itu jangan cuma satu. Kalau sekiranya baik (usaha berjalan lancar atau potensi bisnisnya baik) harus segera diduplikasi karena untungnya sedikit,” saran Cak Is yang juga pengelola sebuah majalah UKM ini.

Masih terkait marjin keuntungan ini pula, kadang kita sebagai pedagang menyepelekan usaha kita atau usaha orang lain yang terlihat “ecek-ecek” dan menyepelekan uang recehan pula. Padahal tidak sedikit usaha yang terkesan kecil justru menghasilkan keuntungan berlipat. “Jangan alergi dengan bisnis kecil. Jangan alergi dengan uang recehan,” Cak Is mengingatkan.

Dia mencontohkan, bisnis franchise ayam goreng Sabana, misalnya, (kalau yang tinggal di wilayah Jabodetabek pasti kenal nama produk yang satu ini). Saya rasa gak apa-apa pula saya sebut merek, bukan untuk promosi tapi untuk ditiru kiat suksesnya. Cak Is menyebut dalam sehari Sabana bisa menghabiskan 5 ton ayam. Iya, 5 ton. Bukan 5 kg lho. Wow…. bukan? Gerai Sabana jelas gak sebesar KFC atau McDonald. Gerai Sabana umumnya hanya gerobak-gerobak kecil di gang-gang atau lapak pinggir jalan. Lho, gimana bisa sampai menghabiskan daging ayam sebanyak itu? Ya karena jumlah gerainya ribuan. Kalau saya gak salah dengar dalam forum seminar kemarin jumlahnya mencapai 1.700 gerai. Data pastinya belum terkonfirmasi karena dalam seminar ini gak ada pihak Sabana, tapi bahwa gerai franchise ini kecil-kecil dan tersebar dimana-mana itu tak terbantahkan. Iya, kecil tapi banyak jadinya keuntungan pemilik franchise-nya pastinya melimpah.

Nah, bicara soal jangan alergi uang recehan ini, saya jadi ingat di dekat kantor saya di kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, ada toko sembako milik pengusaha keturunan etnis Tionghoa. Toko kelontong ini menjadi jujukan para tengkulak kecil seperti pedagang-pedagang kopi keliling yang banyak dijumpai di wilayah Monas dan sekitarnya. Toko ini menjual beraneka ragam barang dagangan. Salah satunya kerupuk warna putih yang biasanya disantap untuk pendamping makan nasi. Ini kerupuk putih legendaris yang dimana-mana ada sejak saya masih kecil di desa sampai di Ibu Kota juga ada. Pasti semua tahu kerupuk putih yang saya maksud. Itu lho yang biasa ditaruh dalam kaleng atau “blek” warna biru…eh, ada yang merah juga sih.. hehe….. Tahu nggak? Ketika di warung-warung kecil sekelilingnya sudah menjual dengan harga Rp1.500/buah, toko ini masih menjualnya dengan harga Rp1.000 eceran. Kalau saya gak salah, harga dari suplier kerupuk ini sebesar Rp800. Artinya ketika dijual hanya Rp1.000 maka keuntungannya per buah hanya Rp200. Iya, dua ratus perak doank. Ini pengusaha yang sudah bisa dikatakan besar meski bukan giant, tapi masih telaten “ngutuni” uang recehan Rp200, padahal juga gak terlalu laris untuk kerupuknya karena memang hanya dijual eceran. Tapi nih pengusaha kan gak hanya jual kerupuk doank, ada keuntungan lain dari dagangan lainnya. Intinya adalah, uang recehan itu kalau diakumulasikan dengan keuntungan dagangan lainnya juga menjadi besar makanya gak boleh disepelein dalam bisnis kelas UMKM.

Apalagi lagi ya yang disampaikan Cak Is dalam forum sinau bisnis ini? Masih banyak, termasuk SOP bisnis dan lainnya. Tapi kalau saya tulis semua disini tar sampeyan capek bacanya malah ngantuk deh. hehe…

Oh ya, kenapa tulisan singkat ini saya kasih ilustrasi gambar semangka? Tahu gak sih, semangka itu kalau dibikin jus seger sekali. Cukup ditambah gula plus es, diblender, wih…. segarnya bukan main apalagi musim panas begini. Kalau gak percaya, datanglah ke lapak kami Kedai Jus Jreng di Jalan Merpati Raya, Sawah Lama, Ciputat, Tangsel. Buktikan sendiri segarnya jus jreng racikan Cak Rochim. Wassalam semoga bermanfaat. Ayo jualan…! 😃😃😃. Mungkin bisa di-share ke peserta lain siapa tahu bermanfaat.

Isdiyanto aktivis dan penggerak umkm. Ketua IKA Unram

Salam Sehat Jus Jreng

BERITA TERKAIT

Apa pendapat anda tentang berita diatas

- Advertisement -spot_img

PALING SERING DIBACA

- Advertisement -spot_img

Terkini