Menjadi “Pendamping”, Agregator dan Distributor Pemasaran Untuk Aneka Produk2 Produsen Mikro, Apakah Ada yang Mau?

ADA, PASARBETA

Orang tahu bahwa produsen mikro kecil itu banyak betul persoalannya untuk bisa “naik kelas”. Standard kualitas dan kontinyuitas produksi adalah persoalan utama yang menyebabkan produk mikro kecil susah mau diperluas pasarnya. Lha gimana, modal seadanya, tenaga kerja serba serabutan semuamua dikerjakan sendiri (biasanya dengan anggota keluarga serumah), bisa punya “asisten” itu sudah bagus banget, pertanda ada perkembangan omzet, pertanda usaha mengembang dari tadinya cuma segini sekarang jadi agak segitu.

Ketika ada jargon “usaha mikro naik kelas”, lalu muncullah aneka “pelatihan”, “pendampingan”, “bimtek”. Tapi tidak ada data yang menunjukkan berapa banyak usaha2 mikro yang dilatih, didampingi ini beneran “naik kelas”.

Yang jelas, sepanjang pengalaman saya selama ini, ada logika strategi yang perlu dikoreksi dalam soal “naik kelas” ini.

Begini: selama ini usaha mikro kecil itu sebetulnya disuruh berjuang sendiri, berkompetisi di antara sesama mikro lainnya. Yang namanya kompetisi ya pasti yang “menang” secuil, sisanya “kalah”.

Persoalan2 yang dihadapi produsen2 mikro dilihat sebagai “penyebab” mereka gak bisa berkembang. Bukannya dilihat sebagai sesuatu yang harus dicari strategi untuk mengatasinya sehingga justru mayoritas produsen mikro bisa terbantu utk berkembang.

“Produsen mikro itu produk2nya gak standard, gak kontinyu, kemasannya jelek, brandingnya masih jauh, gak dikenal di pasar, susah kompetisi dengan produk2 pabrikan.. jadi ya susah berkembang pasarnya….” demikian ucapan yang tak sekali saya dengar dalam “analisa” tentang kendala usaha mikro naik kelas.

Mestinya pertanyaannya dibalik: jadi sebenarnya kenapa produsen2 mikro itu produk2nya gak standard dan gak kontinyu? Wajarnya kan produsen2 mikro ini ya semua mau punya produk yg terstandard, kontinyuitas produksi terjamin, kemasannya keren, brandingnya kinclong ngetop di sosmed dan seantero jagad maya, ngeheits…

Jawabannya: karena tidak ada jaminan pasar yang menyerap produk2 usaha mikro sehingga mereka bisa punya cukup modal dan pasar untuk berproses menaik-kelas-kan produk mereka baik kualitas maupun kuantitas.

Bagai telur sama ayam kan? Kualitas-kuantitas duluan, atau pasar duluan.

Ada sih pelatihan2 yang secara terpisah2 mengajarkan bagian2 tertentu dari apa yg diketahui “dibutuhkan” oleh produsen2 mikro ini. Misal ada pelatihan bagaimana bikin kemasan bagus, bagaimana mengelola promosi di sosmed, bagaimana produksi kuliner higienis, dibantu ikut pameran dan seterusnya. Tapi ya tetap dengan paradigma bahwa produsen2 mikro ini musti berjuang sendiri dari mulai produksi sampai memasarkan produk2nya.

Kalau begitu apa cara lain membantu produk2 produsen mikro ini bisa “naik kelas”?

Begini:

Prasyarat pertama produsen mikro bisa berkembang apa? Pasar yang kontinyu untuk jumlah dan standard produk yang bisa dilayani oleh produsen sesuai skala kemampuannya. Dengan pasar yang kontinyu kuantitasnya (tidak perlu “sebesar2nya”, sesuai kapasitas produsen) dan terstandard produknya, maka produsen mikro bisa menghitung dengan baik kebutuhan modalnya, sesuai standard yang bisa diserap, dan merencanakan alur produksinya dengan lebih baik. Sejalan dengan waktu, skala dan standard bisa makin baik, efisiensi bisa lebih baik, usaha berkembang dan bisa “naik kelas”.

Kalaupun tidak “naik kelas” dari “usaha mikro” menjadi “usaha kecil” atau bahkan menengah, produsen mikro bisa berkembang menjadi produsen yang “mikro tapi standard kualitas terjamin dan kontinyu produksinya”.

Siapa yang bisa memastikan “pasar” seperti di atas? Mereka ini kalau bahasa sehari-hari ya sebetulnya biasa disebut “pengepul”. Tapi untuk lebih kerennya bolehlah disebut sebagai pihak “agregator”. Fungsinya: menampung produk2 (produk apa ya sesuai preferensi atau “selera” si agregator) dengan mekanisme transaksi yang bisa beraneka macam, dan lalu memasarkannya.

Nah berarti, “syarat” bagi sesuatu pihak untuk bisa menjadi agregator adalah: kemampuannya memasarkan. Kata lain: agregator harus punya basis pasar yang dikuasainya dulu, untuk bisa menjadi agregator.

Pilihan pasar untuk dikuasasi oleh agregator bisa macam2, dari mulai jualan ke jaringan pasar ritel milik pemodal raksasa, aneka marketplace pasar digital, memasok pengepul2 untuk tujuan ekspor, dll yang intinya jalur2 pemasaran yang SUDAH ADA.

Pilihan lain: si agregator bikin jalur pemasarannya sendiri. Misalnya, membangun sendiri dan menguasai jaringan pedagang2 pasar tradisional di area kabupaten tertentu, atau membangun dan menguasai jaringan distributor2 ke luar pulau, dan sebagainya.

Ada banyak sekali pilihan agregator mau membangun pasar yang seperti apa. Yang penting, sebagai agregator harus punya basis pasar mana yang ingin menjadi “area” yang dikuasainya.

Karena agregator harus memilih produk apa dijual ke pasar mana, maka biasanya agregator akan pilih produk dan pasar tertentu yang tentu saja dianggap paling strategis dan mudah mendatangkan keuntungan dengan resiko paling kecil. Maka jangan heran, agregator itu kebanyakan akan bergerak di produk2 yang sudah pasti pasarnya, seperti komoditas pangan dan produk2 pabrikan. Lalu memasarkan ke pihak yang “lebih pasti” seperti jaringan ritel modal besar, pabrik, bahkan ekspor.

Pertanyaannya sekarang: apa ada agregator yang mau menampung produk2 mikro yang serba “kurang ini itu” seperti disebut di atas tadi? Apa ada agregator yang mau repot2 dan menanggung aneka resiko dengan menjadi “pendamping” produsen mikro sampai bisa “produk terstandard dll” itu?

Proses kurasi saja sudah butuh modal tidak sedikit, dari mulai “cari barang”, beli untuk sampel dan test, lalu test order dalam jumlah yang agak banyak, lalu dari situ ditentukan apakah produk sudah “layak” untuk dipasarkan, atau masih harus “didampingi lebih lanjut” sampai layak. Ini semua butuh modal: waktu, tenaga, uang.

Ketika agregator memilih peran untuk sekaligus “mendampingi”, cara yang paling efektif “mendampingi” ya memastikan dilakukan pembelian dalam jumlah tertentu dengan standard tertentu. Transaksinya musti jelas, karena usaha mikro serba terbatas.

Kalau hanya latih2 saja ya belum tentu berdampak nyata. Itulah sebabnya si agregator harus punya alternatif pasar yang bisa mengakomodir proses ini.

Seluruh proses sebagai agregator produsen mikro seperti di atas itu perlu MODAL tidak sedikit. Tapi yang lebih penting dari modal adalah: NIAT dan MOTIVASI KUAT untuk membantu produsen2 mikro. Yang punya modal kan biasanya ya cari aman, bukan cari susah apalagi resiko. Jadi modal saja sama sekali tidak cukup. Maksud dan niat yang genuine bahwa memang ingin membantu memasarkan produk2 produsen mikro sehingga mereka terbantu dalam memastikan usahanya jalan dan berkembang, inilah prasyarat utama untuk si agregator produsen mikro.

Apa ada agregator yang punya niat dan motivasi genuine seperti itu? Ada. Namanya PASARBETA. Unit usaha dari Koperasi KOBETA.

Dalam fungsinya sebagai agregator bagi produk2 produsen mikro, PASARBETA juga ingin membangun jaringan pasar warung/toko rakyat sebagai salah satu jalur distribusi pemasaran utamanya, sehingga sekaligus bisa membantu warung/toko rakyat. Plus jalur pemasaran digital juga digunakan, dan promosi via sosmed dan jaringan.

PASARBETA, sebagai unit usaha Koperasi KOBETA, masih baru meretas jalan yang sangat disadari terjal berliku penuh halangan dan tantangan. Perlu kesabaran, ketekunan, dan lagi-lagi: niat dan motivasi yang sekuat2nya.

Jadi bila kawan handai taulan sekalian belanja di https://kataloq.id/PASARBETA

(semacam warung online tinggal klik) maka kawan handai taulan sekaligus membantu warung/toko rakyat dan produsen2 mikro karena keuntungan sedikit-sedikit dari penjualan di PasarBeta didedikasikan untuk mengembangkan warung/toko rakyat dan produsen mikro.

Yuk. Bareng2 kita rakyat bantu rakyat.

(Dewi Hutabarat)

BERITA TERKAIT

Apa pendapat anda tentang berita diatas

- Advertisement -spot_img

PALING SERING DIBACA

- Advertisement -spot_img

Terkini