Peluang ‘Raksasa’ Budidaya Talas Bening

Tumpukan bibit talas mengonggok di halaman kantor Asosiasi Pelaku Usaha Talas Beneng (Aspustaben). Tampak beberapa orang memilah bibit, dan beberapa orang lainnya sibuk memasukkannya ke dalam karung. Bibit itu siap untuk dipasarkan. Sebagian besar diantaranya, untuk memenuhi kebutuhan anggota sendiri..

Sekretaris Aspustaben, Alan Maulana mengatakan,  talas beneng dulunya tumbuh liar dan tidak terawat. Masyarakat hanya mengetahui kegunaannya sebagai bahan pangan. Tapi sekarang, talas beneng menjadi primadona. Daun yang dulunya hanya dimanfaatkan sebagai pakan ikan, atau dibuang begitu saja sebagai pupuk alami, kini menjadi primadona. Lalu, jangan heran,  bibitnya diburu masyarakat Banten, dan luar banten, bahkan hingga  ke provinsi lain di Pulau Jawa dan  luar Pulau Jawa.

Lalu, Alan pun bercerita awal mula melejitnya komoditi talas beneng. Adalah, Ardi, namanya. Dia bertugas sebagai seorang Satpam. Dan seperti kebanyakan orang desa lainnya, Ardi punya  kebun untuk ditanami berbagai tanaman, termasuk talas beneng. Mulanya, talas itu hanya dikonsumsi untuk makanan dan cemilan . Tinggal direbus, lalu dicolekin parutan kelapa, jadilah cemilan, gurih rasanya. Di masa paceklik,  tak jarang,  talas beneng  dijadikan makanan pokok pengganti beras.

Cerita menjadi berubah total setelah Ardi berinteraski dengan pejabat kepolisian, Polres Pandeglang,  yang kebetulan mempunyai saudara yang bergerak di bidang ekspor. Lalu, order pertama pun datang. Bukan ubinya yang diekspor, melainkan daunnya, dalam bentuk rajangan kering. 

“Ini merupakan lompatan luar biasa. Daun talas yang biasanya hanya digunakan untuk pakan ikan, dan sisanya  dibuang begitu saja, tapi sekarang, daun keringnya laku dijual dengan harga cukup lumayan, Rp. 18 ribu/kg,” ungkapnya.

 Pasar yang mulai terkuak itu menjadi buah bibir masyarakat, dan mereka pun mulai tertarik untuk membudidayakan talas beneng. Lalu, para youtuber menggorengnya menjadi sajian informasi di jagat medsos. Tentunya, diwarnai komentar penyedap, bahkan terkadang lumayan bombastis.

Melalui saluran dari mulut ke mulut, televsi, dan medsos, informasi itu cepat menyebar luas ke seantero Indonesia. Tak urung, semakin banyak masyarakat yang tertarik mengembangkan budidaya talas beneng. Tidak hanya di Pandeglang, tapi daerah-daerah lain di Pulau Jawa dan luar Jawa juga ikut tertarik. Lantas, untuk mengorganisir antusias masyarakat itu, dibentukan Asosiasi Pelaku Usaha Talas Bening (Aspustaben), dengan Ardi sebagai ketua terpilih. Selanjutnya, pengorganiasian dan pengembangan budidaya hingga pemasarannya dilakukan oleh lembaga ini.

Sayang, dalam perjalanannya terjadi perbedaan pendapat mengenaii masalah kelembagaan yang tak tertuntaskan. Lantas, lahirlah lembaga baru, Pertabenindo

Ketua Umum Pertabenindo, Dedi Muhadi mengatakan, gerakan lembaganya lebih ke arah sosial, pemberdayaan petani dan pengembangan budidaya talas beneng. Sementara untuk sisi bisnisnya, lembaga ini membentuk koperasi.

“Jadi, Pertabenindo ini gerakannya lebih ke sosial, sementara sisi bisnisnya ditangani oleh koperasi,” kata Ketua Umum Pertabenindo, Dedi Muhadi.

Lebih lanjut Dedi mengemukakan, antusias masyarakat untuk membudidayakan talasbeneng semakin hari semakin meluas. Tidak hanya di Banten, melainkan sudah berkembang ke provinsi lain di Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa. Bahkan, di luar Banten telah terbentuk Dewan Perwakilan Daerah beserta kepengurusannya, yang sejauh ini, telah terbentuk perwakilan di  sejumlah provinsi, yaitu di Banten, Jateng, Jatim, Jabar, Jambi, Lampung, Sumsel, Sumut dan Riau.

Sementara ini, kata Dedi, Pertabenindo lebih fokus ke pengembangan budidaya, dan riset nilai kandungannya. DPD Pertabenindo Jatim , misalnya, telah menjalin kerja sama dengan ITS Surabaya. Selain itu, BPPT juga pernah menelitinya,  sementara pihaknya  sendiri juga melakukan sejumlah ujicoba untuk mengembangkan produk turunannya.

Sementara, produk unggulannya masih pada rajangan daun talas, sedangkan umbinya belum bisa dipanen karena pada umumnya, masyarakat baru menanamnya.

“Umbinya baru bisa dipanen setelah berumur setahun, dua tahun, atau bahkan lebih. Walau demikian, daunnya sudah bisa dipanen pada usia 4 bulan. yang harus dicatat, primadonanya justru  panen daun, bukan umbinya,” tegasnya.

Soal pasar,  kata Dedi, tidak masalah. Karena, permintaan di Pulau Jawa saja belum bisa terpenuhi, apalagi ekspor.

 Sejauh ini, Pertabenindo belum  ekspor langsung karena belum mampu memenuhi kuota minimal setiap bulannya. Jadi, peluang untuk pengembangan budidaya masih terbuka luas. Anda tertarik? Datanglah ke Pandeglang.

Naskah: Budi L

BERITA TERKAIT

Apa pendapat anda tentang berita diatas

- Advertisement -spot_img

PALING SERING DIBACA

- Advertisement -spot_img

Terkini