Perkembangan Pendidikan dan Pengajaran di Indonesia: Dari Akhir Abad ke-19 hingga Awal Abad ke-20

Damar Banten – Perhatian terhadap aspek-aspek pendidikan dan pengajaran tampak jelas antara akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Akhirnya, memberikan hasil positif, khususnya pada periode 1920-an hingga 1930-an.

Kemajuan aspek-aspek edukatif menunjukkan hasilnya paling sedikit melalui lima bidang. Bidang-bidang tersebut mencakup semangat nasionalisme, semangat untuk menyamakan diri dengan bangsa-bangsa lain melalui kerja sama luar negeri, semangat untuk membangun kebudayaan baru, semangat untuk memiliki bahasa nasional, dan semangat kreativitas dalam kegiatan mencipta, khususnya dalam karya seni.

Sebagai bagian integral dari kesadaran nasional, kesadaran terhadap perkembangan pendidikan dan pengajaran tidak terbatas di kota-kota besar. Melainkan, telah meluas hingga ke wilayah-wilayah yang terpencil.

Dalam hubungan ini, tampak kembali peranan kebudayaan asli sebagai cultural heritage. Ini tercermin dalam pendidikan dengan sistem paguron dan sistem pondok yang telah ada sejak zaman dahulu.

Secara etimologis, menurut Dewantara, sistem paguron mengacu pada tempat tinggal guru atau pusat studi itu sendiri. Sementara sekolah adalah rumah guru, dan murid datang ke rumah guru untuk belajar.

Berbeda dengan sekolah-sekolah modern, sistempaguron yang dilakukan dalam Taman Siswa selalu dipenuhi oleh siswa, sejak pagi hingga malam. Mata pelajaran yang diperoleh tidak terbatas pada mata pelajaran umum saja, tetapi juga meliputi berbagai keterampilan seperti kesenian, olahraga, dan budi pekerti.

7Berbeda dengan sistem pendidikan kolonial, pendidikan dan pengajaran nasional, khususnya Taman Siswa, sejak semula telah dikemas atas dasar kebutuhan-kebutuhan yang sejajar dengan masyarakat Indonesia.

Salah satu alasan mengapa Taman Siswa didirikan adalah kenyataan bahwa pemerintah kolonial sangat kikir dan sama sekali mengabaikan bidang pendidikan.

Pelaksanaan Politik Etis ternyata juga bersifat elitistis, hanya dinikmati oleh golongan tertentu yang disesuaikan dengan kebutuhan pemerintah kolonial.

Sesuai dengan sifat penjajah, pemerintah kolonial lebih banyak mencurahkan perhatiannya pada masalah-masalah ekonomi politik yang memberikan keuntungan kepada pemerintah Belanda itu sendiri.

Karena itulah, Dewantara mengalihkan perhatiannya pada pendidikan nasional, dengan maksud agar dapat membantu keterbelakangan masyarakat.

Pendidikan dengan sendirinya bukan semata-mata untuk memperoleh kualitas intelektualitas, tetapi yang lebih penting untuk membangkitkan kesadaran nasional.

Konsep dan gagasan merupakan buah-buah pikiran yang terpenting dalam kaitannya dengan sistem dan model pendidikan modern.

Sejak berdirinya Taman Siswa tahun 1922, bahkan sebelumnya, Dewantara telah memformulasikan pikiran-pikirannya yang berkaitan dengan sistem pendidikan modern.

Berbeda dengan sistem pendidikan kolonial yang didasarkan atas pendidikan Barat, sistem pendidikan yang dikembangkan oleh Dewantara didasarkan atas keseimbangan yang dinamis, sebagai akulturasi antara metode dan sistem pendidikan yang dikembangkan oleh tokoh-tokoh asing dengan sistem yang digali melalui masyarakat Indonesia.

Di satu pihak, melalui perkenalannya dengan tokoh-tokoh asing, Dewantara mengadopsi konsep-konsep yang dikembangkan oleh Tagore, Montessori, dan Frobel. Di pihak lain, sistem paguron digali melalui interaksi formal masyarakat lama yang telah terjadi sejak berabad-abad yang lalu.

Sistem pondok dianggap tepat karena mempertimbangkan keterlibatan seluruh komponen pendukungnya, seperti murid dan guru, rumah dan masyarakat, serta berbagai keterampilan yang menyertainya.

Tujuan utama pendidikan bukanlah kualitas intelektualitas semata-mata, melainkan keseimbangan yang dinamis dan proporsional antara keduanya, yaitu antara pendidikan dan pengajaran, antara emosionalitas dan intelektualitas, serta antara kebutuhan-kebutuhan jasmani dan rohani.

Sebagai elite intelektual modern, dengan pengalaman yang cukup lama di negeri Belanda, Dewantara mengenal dengan jelas sistem pendidikan Barat. Namun, setelah kembali ke Indonesia, Dewantara tidak mengembangkan sistem pendidikan tersebut di Indonesia, melainkan justru menggali gagasan-gagasan yang asli, sesuai dengan masyarakat Indonesia.

Dewantara memanfaatkan pengalamannya sebagai relasi oposisi sehingga lebih mematangkan konsep-konsep asli yang berhasil digalinya. Kenyataan menunjukkan bahwa konsep-konsep tersebut masih relevan sampai sekarang.

Penulis: Ilham Aulia Japra

BERITA TERKAIT

Apa pendapat anda tentang berita diatas

- Advertisement -spot_img

PALING SERING DIBACA

- Advertisement -spot_img

Terkini