Perjalanan Intelektual Karl Marx: Dari Trier ke London

Damar Banten – Karl Marx lahir di Trier, Jerman, pada 5 Mei 1818. Meskipun awalnya menekuni studi hukum di Universitas Bonn pada tahun 1835, minatnya beralih ke filsafat setelah pindah ke Universitas Berlin, di mana ia dipengaruhi oleh ide-ide Hegel dan penafsirannya seperti Bruno Bauer dan Ludwig Feuerbach.

Setelah meraih gelar doktor pada tahun 1841 dengan disertasinya tentang perbedaan antara ide-ide Demokritus dan Epicurus, Marx memasuki dunia jurnalisme untuk mencari nafkah. Dia menjadi wartawan untuk Rheinische Zeitung, sebuah koran liberal-demokrat, sebelum akhirnya pindah ke Paris untuk bekerja pada Deutsch-Franzosische Jahrucher setelah koran sebelumnya dibredel oleh pemerintah Prusia pada tahun 1843.

Di Paris, Marx mengeksplorasi bidang ekonomi, politik, sejarah, dan filsafat, dan berteman dengan Friedrich Engels, yang juga tertarik pada pemikiran Hegel. Bersama Engels, mereka menulis The Holy Family, Selected Writings, sebuah kritik terhadap filsafat Bauer. Keluarga Marx kemudian pindah ke Brussels karena tekanan politik di Berlin.

Di Brussels, Marx mendirikan Communist Correspondence Committee untuk menghubungkan komunis di seluruh dunia dan menulis bersama Engels dalam karya-karya yang mengkritik filsafat populer Jerman dan Prancis serta ide-ide sosialis.

Pada tahun 1847, Marx berpartisipasi dalam kongres kedua Liga Komunis di London, di mana The Communist Manifesto, manifesto politik yang terkenal, diterbitkan. Dalam manifesto ini, Marx dan Engels menyampaikan visi mereka tentang masyarakat yang bebas dan adil.

Perjalanan hidup Marx penuh dengan perpindahan dari Paris ke Jerman, kembali ke Paris, dan akhirnya menetap di London, tempat dia menghabiskan sisa hidupnya. Di sana, dia melanjutkan karya jurnalismenya dengan menulis artikel untuk New York Tribune dan menerbitkan berbagai karya, termasuk Das Kapital (1867) yang terkenal.

Marx juga berpartisipasi dalam gerakan politik reformasi dan sering terlibat dalam konflik dengan anggota komunis dan sosialis lainnya. Meskipun ia tidak sempat menyelesaikan jilid kedua dan ketiga dari Das Kapital, karya-karya tersebut kemudian diterbitkan atas usaha Engels setelah kematiannya pada tahun 1883.

Menurut Marx, konsep-konsep Hegel, khususnya dalam kaitannya dengan studi sejarah, membentuk dasar filsafatnya. Dia melihat bahwa proses sejarah adalah manifestasi progresif dari ‘Pikiran’, di mana konflik dan pertempuran membawa menuju kesadaran kolektif akan kebebasan. Dalam karyanya, Marx menelusuri evolusi hubungan antara tuan dan budak yang dijelaskan oleh Hegel, yang menggambarkan proses pembebasan manusia dari alienasi dan pertindasan.

Penulis: Ilham Aulia Japra

BERITA TERKAIT

Apa pendapat anda tentang berita diatas

- Advertisement -spot_img

PALING SERING DIBACA

- Advertisement -spot_img

Terkini