Perubahan Sosial dan Politik di Banten Selama Masa Pendudukan: Dari Penjajahan Belanda Hingga Kedatangan Jepang

Damar Banten – Daerah Banten, terletak di bagian barat Pulau Jawa, merupakan sebuah keresidenan yang terdiri dari tiga kabupaten: Kabupaten Lebak, Kabupaten Pandeglang, dan Kabupaten Serang. Secara umum, Banten dibagi menjadi dua wilayah yang berbeda: bagian selatan yang merupakan daerah pegunungan dengan populasi jarang, dan bagian utara yang merupakan dataran rendah dengan populasi padat.

Mayoritas penduduk Banten adalah suku Sunda, dengan masyarakat Baduy di daerah selatan yang mempertahankan adat istiadat mereka. Di bagian utara, mayoritas penduduk adalah pendatang dan keturunan Jawa dari Demak dan Cirebon.

Struktur sosial masyarakat Banten didasarkan pada kepemilikan tanah, karena daerahnya yang dominan agraris. Sebagian besar penduduk bermatapencaharian sebagai petani, meskipun ada juga yang bekerja sebagai nelayan, tukang, pekerja industri, dan pedagang. Pada abad ke-19, masyarakat Banten dikelompokkan menjadi dua kelompok: jalma leutik, yang terdiri dari petani, tukang, pedagang, dan buruh, serta priyayi, yang terdiri dari bangsawan dan elit birokrasi.

Pada masa kekuasaan Kesultanan Banten yang didirikan pada tahun 1525, wilayahnya meliputi daerah Jasinga, Tangerang, dan Lampung. Namun, setelah kemunduran pada masa perebutan kekuasaan di keluarga sultan dan intervensi Belanda, kesultanan mengalami penurunan hingga berakhir pada tahun 1808.

Setelah Belanda menguasai Kesultanan Banten, terjadi berbagai perlawanan di daerah tersebut, termasuk pemberontakan yang mencakup peristiwa-peristiwa seperti pemberontakan Pandeglang (1811), peristiwa Geger Cilegon (1888), pemberontakan Cikande Udik (1845), peristiwa Kolelet (1866), dan pemberontakan Wakhia (1850). Pada tahun 1926, Banten menjadi pusat pemberontakan komunis yang mencemaskan pemerintah Hindia Belanda.

Kedatangan Jepang ke Indonesia selama Perang Dunia II membawa angin segar bagi para pejuang kemerdekaan. Meskipun pada awalnya disambut dengan baik, pemerintahan Jepang kemudian menunjukkan sifatnya yang kejam dengan menerapkan berbagai peraturan ketat dan menekan rakyat. Meskipun melakukan pendekatan melalui pendidikan dan propaganda, pemerintah Jepang menghadapi perlawanan dari beberapa kelompok, termasuk ulama-ulama Banten yang menentang kewajiban menyembah Kaisar Jepang.

Pendudukan Jepang mengakibatkan perubahan sosial yang signifikan, termasuk perubahan dalam pelapisan sosial. Orang Jepang menduduki lapisan teratas, diikuti oleh orang Timur Asing dan Indonesia, sedangkan orang Belanda dan Eropa yang kalah perang berada di lapisan terbawah. Banyak harta benda dan perusahaan milik Belanda disita oleh Jepang sebagai hasil dari perang.

Pendudukan Jepang di Banten memberikan gambaran tentang dinamika sosial dan politik yang terjadi selama periode tersebut, serta menandai awal dari perubahan menuju kemerdekaan Indonesia.

Penulis: Ilham Aulia Japra

BERITA TERKAIT

Apa pendapat anda tentang berita diatas

- Advertisement -spot_img

PALING SERING DIBACA

- Advertisement -spot_img

Terkini