Talas Beneng Banten: Mengejar Mimpi

Talas Beneng , Talas besar dan kuning, dengan nama ilmiah …. Merupakan endemic tanaman  desa Juhut Kabupaten Pandeglang. Mulai diperkenalkan sejak tahun 2005 oleh pemerintah, namun mulai bergaung enyusul Porang yang lebih dulu popular sekalipun tahun yang sama mulai dikampanyekan pemerintah, 

Bagi masyarakat Juhut, talas beneng merupakan anugerah alam yang menjadi penyanggah di masa paceklik. Tanaman talas raksasa ini umbinya tidaklah berkembang menyamping, melainkan ke atas sehingga menyerupai pepohonan.  BaTang dan umbinya yang hampir sama besarnya dapat dimakan sebagaimana layaknya umbi-umbian talas. Cara masaknya pun tidak sulit. Cukup dimasak atau dikukus lalu ditaburi parutan kelapa. Enak, deh.  

Di masa lalu, utamanya di masa paceklik, talas ini menjadi makanan pengganti pangan utama, beras. Walau demikian, warga malu menyajikan masakan ini kepada tamu. Alasannya, sekalipun rasanya enak, talas bening tetap dianggap tanaman liar, dan bisa juga, penyajinya dianggap kekurangan pangan, .

Seiring perjalanan waktu, dalam kurun dua tahun terakhir ini, talas bening naik derajat, bahkan menjadi komoditi primadona. Sebab, kini daunnya laku dijual. MAsyarakat pun beramai-ramai menanamnya.

Melihat pasar yang baik dan cerah, kebutuhan untuk budidaya talas beneng semakin urgen. Mulailah masyarakat, baik di sekitar pandeglang maupun luar daerah, termasuk luar Pula Jawa, tertarik untuk menanamnya. Apalagi, proses pembudidayaannya sangat gampang, dan dapat ditanam sebagai tanaman sela dibawah tegakan pohon. Maka, tak heran bila budidayanya berkembang pesat.  Implikasinya, permintaan bibit menjadi demikian tinggi, dan hukum pasar komoditas pun berlaku. LAnjutannya, harga bibit juga terkatrol naik. Kini, harganya berkisar Rp. 1500 hingga Rp. 4000 untuk kategori bibit mahkota.

Bergairahnya budidaya talas beneng ini memicu keterlibatan masyarakat dalam menjual bibit dan daun talas. Bagi yang telah memulai budidaya lebih dulu, mereka kini sudah bisa menjual hasil panen daunnya, baik yang basah. kering maupun kering rajang. Sementara, umbi batangnya belum bisa dijual kaena belum mencapai umur ideal dipanen, yaitu di atas usia 1 tahun.  Sedangkan daunnya sudah bisa mulai dipanen sejak tanaman berumur 4 bulan.

Lalu, mimpi untuk menjadikan usaha tani, talas beneng, sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat  Pandeglang melalui industry pengolahan memang masih jauh walaupun usaha untuk itu telah dirintis. Selain tepung, berbagai bentuk panganan telah di inisiasi termasuk pengolahan daunnya. Ya, mimpi memang belum terwujud, tapi cita-cita untuk sejahtera dari komditi ini tetaplan mengangkasa.

BERITA TERKAIT

Apa pendapat anda tentang berita diatas

- Advertisement -spot_img

PALING SERING DIBACA

- Advertisement -spot_img

Terkini