https://www.fapjunk.com

Sekilas Tentang Syekh Nawawi

Damar Banten – Pada tahun 1813, lahir-lah seorang ulama besar dari Banten kenamaan asal Tanara, Tirtayasa, Serang, yang bernama Syekh Nawawi al Bantani, yang puluhan kitab karangannya dicetak di Makkah, Mesir, Beirut, serta Syria, yang hingga saat ini, karangannya masih dipelajari serta dibaca oleh umat Islam, khususnya di Indonesia.

Karya besar Nawawi merupakan Al Tafsir al Munir li Ma’alim al Tanzil, hingga ia memperoleh gelar Sayyidu al ulama al Hijaz dari Al Azhar Mesir.

Tidak berlebihan, Dr. Snouck Hurgronje memujinya sebagai orang Indonesia yang paling alim dan rendah hati, Muhammad Nawawi bin ‘Umar al Jawi al Bantani (wafat 1896/7) merupakan pengarang yang sangat produktif. Di antara karyanya:

  1. Qathr al Ghaiths yang merupakan syarah dari Ushul 6 Bis kitab akidah enam bab karya Abu al Laits al Samarqandi,
  2. Madarij al Su’ud Ila Iktisah al Burud adaptasi ‘Iqd al Jawahir karya Ja’far bin Hasan al Bazanji,
  3. Nihayah al Zain syarah dari Qurrat al ‘Ain karya ulama India Selatan abad ke-16 Zain al Din al Malibari,
  4. Kasyifah al Saja syarah dari Safinah al Najah karya ulama Hadrami yang pernah tinggal di Batavia pada tahun 1850 Salim bin Abdullah bin Samir,
  5. Al Tsamar al Yani’ah syarah dari Al Riyadh al Badi’ah fi Ushul al Din wa Ba’dh Furu’ al Syari’ah karya Muhammad Hasballah,
  6. Sullam al Munajat syarah dari Safinah al Shalah karya Abdullah bin ‘Umar al Hadrami,
  7. Uqud al Lujain fi Huquq al Zaujain tentang hak dan kewajiban isteri,
  8. Tausyih ibn Qasim komentar atas Fath al Qarib yang merupakan syarah dari Taqrib,
  9. Minhaj al Thalibin syarah atas Mughni al Muhtaj karya Khatib Syarbini,
  10. Tijan al Durari yang meng- hasyisyah-kan Tahqiq al Maqam karya Ibrahim Bajuri yang merupakan syarah Kifayah al Awwam karya Muhammad bin Muhammad al Fadhdhali,
  11. Nur al Zhalam yang merupakan syarah atas ‘Aqidah al Awwam kitab singkat berbentuk sajak karya Ahmad al Marzuqi al Maliki al Makki,
  12. Fath al Majid syarah dari Durr al Farid fi ‘Ilm al Tauhid karya Ahmad al Nahrawi,
  13. Tangih al Qaul syarah dari Lubab al Hadits karya al Suyuti,
  14. Nasha’ih al ‘Ibad syarah dari Al Nabahah ‘Ala Isti’dad karya Ibnu,
  15. Maraqi al ‘Ubudiyah syarah Bidayah al Hidayah karya Abu Hamid al Ghazali.

Bahkan, tercatat dalam kamus Al Munjid fi al Lughah wal A’lam halaman 719 bahwa Nawawi merupakan ahli fiqh yang bermadzhabkan Syafi’i, lahir di Tanahar, Jawa, dan meninggal di Makkah.

Di usia 15 tahun, ia pergi ke berbagai daerah di Jawa untuk berguru antara lain kepada Kiai Sahal di Banten dan Kiai Yusuf di Purwakarta. Karena ketekunan serta kecerdasannya, pemuda Nawawi sanggup menyerap berbagai cabang ilmu yang sesungguhnya lebih cocok diajarkan kepada orang yang lebih dewasa. Setelah itu, Nawawi pun berangkat ke Makkah al Mukaramah untuk berhaji dan juga menimba ilmu. Di sana, ia belajar pada Syekh Khatib Sambas, Abdul Ghani Bima, Yusuf Sumbulaweni, Syekh Nahrawi, dan Syekh Abdulhamid Daghestani.

Dalam pemikirannya, Nawawi harus berusaha mendidik bangsanya, khususnya umat Islam, yang masih dilanda kebodohan. Oleh sebab itu, Nawawi banyak mempengaruhi muridnya untuk kemudian nantinya mendirikan pondok pesantren di daerahnya masing-masing.

Di antara muridnya itu ialah K.H. Khalil dari Bangkalan, Madura; K.H. Hasyim Asy’ari dari Tebuireng, Jombang; K.H. Asnawi dari Kudus, Jawa Tengah; K.H. Tb. Bakrie dari Sempur, Purwakarta; K.H. Asnawi dari Caringin, Pandeglang; dan K.H. Arsyad Thawil dari Banten.

Syekh Nawawi dapat dikatakan didewasakan dengan kondisi Banten saat itu. Betapa tidak, Belanda ikut campur dalam setiap hal yang bersifat keagamaan. Di kota suci Makkah, Nawawi dan juga pelajar Indonesia lainnya, berhubungan dengan banyak orang asing. Mereka sempat membandingkan keadaan tanah airnya dengan kondisi di luar negeri.

Sekembali ke Indonesia, mereka kian ingin mengubah keadaan saat melihat kampung halaman serba terbelakang. Keadaan sosial dan ekonomi yang kala itu sangat kacau, serba tidak menentu, membuat mereka tersadar. Kesadaran sosial pun terbentuk dalam setiap pribadi, serta berkembang juga hampir secara menyeluruh di dalam masyarakat.

Hingga Belanda pun curiga. Dikirimlah Dr. Snouck Hurgronye dengan nama samaran Abdul Ghafar-ke Makkah pada tahun 1884-85 untuk mengamati gerak- gerik cendekiawan-ulama Indonesia di sana. Konon Snouck sempat bertanya kepada Syekh Nawawi, kenapa ia tidak mengajar di Masjidil Haram?

“Pakaianku yang jelek dan juga kepribadianku tidak cocok dan tidak pantas dengan keilmuan profesor berbangsa Arab,” jawab Syekh Nawawi.

“Banyak orang yang tidak berpengetahuan sedalam Anda toh mengajar di sana?” tanya Dr. Snouck lagi, penasaran.

“Kalau mereka diizinkan mengajar di sana, pastilah mereka cukup berjasa untuk itu,” jawab Nawawi dengan tersenyum sabar.

Dari beberapa kali pertemuan dan dialog dengan Syekh Nawawi, Dr. Snouck Hurgronje berkesimpulan bahwa orang yang juga dikenal sebagai Al Jawi itu tidak membahayakan bagi bangsa Belanda. Bahkan dalam catatannya, ia menyebut Syekh Nawawi itu ulama berkepribadian rendah hati, tidak congkak, dan selalu bersedia berkorban demi kepentingan agama dan bangsa.

Dr. Snouck sempat mengagumi ucapan Al Bantani, "Saya adalah debu yang lekat pada orang yang mencari ilmu." Syekh Nawawi selalu dikerumuni muridnya untuk dimintai do'a dan pandangannya mengenai berbagai cabang ilmu pengetahuan.

Bagaimana-pun, kehadiran ulama Indonesia di Makkah telah menghilangkan anggapan orang Arab terhadap orang Jawa dengan cara menjulukinya Jawa Baqar (Jawa Sapi), karena mereka telah membuktikan kemampuannya sebagai manusia beradab dan berilmu serta tidak kalah dibanding bangsa Arab. K.H. Nawawi Al Bantani masyhur dengan karyanya yang banyak, K.H. Tb. Ma’mun dengan qira’ah-nya yang tak terkalahkan, K.H. Abdul Ghani juga terkenal sebagai ulama besar.

Penulis : Ilham Aulia Japra

BERITA TERKAIT

Apa pendapat anda tentang berita diatas

- Advertisement -spot_img

PALING SERING DIBACA

- Advertisement -spot_img

Terkini